Balinetizen.com, Denpasar
Dalam kesempatan tersebut, Koster menegaskan pentingnya peran Universitas Udayana sebagai salah satu perguruan tinggi strategis dalam mendukung pembangunan Bali.
Menurut Koster, hubungan dan koordinasi antara Pemerintah Provinsi Bali dengan Universitas Udayana selama ini berjalan dengan baik. Bahkan, sejumlah pakar yang terlibat dalam pembangunan di lingkungan Pemprov Bali berasal dari Unud.
“Pakar yang tergabung di Pemprov Bali sebagian dari UNUD dan secara institusi maupun pribadi, saya dengan Bapak Rektor memiliki hubungan yang sangat baik, terus berkoordinasi untuk menyelaraskan kerja sama antara Pemprov dengan UNUD,” ujar Koster.
Ia menyebut Universitas Udayana sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Bali yang juga menjadi rujukan pendidikan tinggi bagi kawasan Indonesia Timur.
Koster juga menyinggung filosofi nama Udayana yang diambil dari sosok Raja Udayana, salah satu raja berpengaruh dalam sejarah Bali. Menurutnya, Bali pernah mencapai masa keemasan di bawah pemerintahan raja tersebut.
Saat dipercaya memimpin Bali, Koster mengaku banyak mempelajari konsep pembangunan dari para raja terdahulu. Pemikiran tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan dalam menjalankan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
“Ini saya jadikan pedoman agar alam, manusia dan alam Bali tetap ajeg. Bali harus betul-betul dibangun sesuai dengan karakteristik dan potensi lokalnya. Ini yang sedang saya kerjakan dengan sangat serius melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun,” katanya.
Koster Dorong Ekonomi Kerthi Bali Dikenalkan di FEB Unud
Koster menjelaskan, Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali. Mulai dari alam, manusia hingga kebudayaan yang menurutnya harus tumbuh secara harmonis dan saling berkaitan.
Salah satu konsep yang dinilai relevan dengan bidang keilmuan FEB Unud adalah Ekonomi Kerthi Bali. Konsep tersebut telah dituangkan dalam sebuah buku dan diharapkan dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang diperkenalkan kepada mahasiswa maupun dosen.
“Saya berharap konsep ini dikenalkan di kampus karena sangat bagus. Supaya pengetahuan yang kita bangun benar-benar menyentuh dan menyatu dengan karakter serta potensi daerah Bali. Saya siap memberi kuliah umum tentang Ekonomi Kerthi Bali di FEB,” imbuhnya.
Koster berharap Universitas Udayana, khususnya FEB, terus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan Bali. Momentum Dies Natalis ke-59 diharapkan menjadi titik untuk memperkuat peran fakultas di tengah masyarakat.
“Jadikan dies natalis menjadi momentum untuk bergerak maju agar FEB makin kuat, tangguh dan makin terkenal. Menjadi kebanggaan masyarakat Bali dan Indonesia,” pungkasnya.
FEB Unud Catat Sejumlah Capaian
Sementara itu, Dekan FEB Unud Prof. Dr. Ni Putu Wiwin Setyari menyampaikan sejumlah capaian fakultas selama kepemimpinannya.
FEB Unud saat ini telah menjadi salah satu fakultas ekonomi terkemuka di kawasan Indonesia Timur. Ribuan lulusan FEB Unud juga telah terserap di berbagai sektor.
Dari 12 program studi yang ada, sebanyak 10 program studi telah meraih akreditasi unggul.
Wiwin menegaskan capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh keluarga besar FEB Unud serta dukungan dari berbagai pihak.
“Capaian ini bukan hasil kerja satu orang, melainkan hasil kerja kolektif dan dukungan dari berbagai komponen,” ujarnya.
Dalam perayaan Dies Natalis ke-59, Wiwin juga mengajak keluarga besar FEB Unud memaknai tema “Empowering Collective Impact: Driving Change Beyond Limits, Together as One.”
Tema tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya berharap ini bukan hanya sekadar slogan tapi penegasan bahwa keunggulan dari kerja keras harus diterjemahkan dalam tindakan nyata hingga bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.
Puncak Dies Natalis ke-59 FEB Unud ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Dekan FEB Unud Wiwin Setyari. Potongan pertama tumpeng kemudian diserahkan kepada Gubernur Bali Wayan Koster.(rls)

