Balinetizen.com, Denpasar
Darwis Triadi di Era AI: Fotografi Tak Sekadar Soal Teknologi, tetapi Energi Manusia
Sanur, Bali, 3 September 2026 – Perkembangan artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia fotografi. Teknologi kini semakin mampu menghasilkan dan mengolah visual, tetapi bagi fotografer senior Indonesia, Darwis Triadi, kemajuan tersebut tidak akan menghilangkan esensi fotografi selama manusia tetap menjadi pusat dari sebuah karya.
Pandangan itu disampaikan Darwis saat membuka pameran fotografi bertajuk A Portrait of Human Art di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort Sanur, Kamis, 3 September 2026. Pameran yang terbuka untuk umum tersebut berlangsung hingga 3 Oktober 2026. (Bloomberg Technoz)
Pameran ini menghadirkan karya-karya Darwis yang banyak mengeksplorasi manusia melalui fotografi potret. Bukan hanya wajah, tetapi karakter, emosi, pengalaman, dan cerita yang berada di balik subjek menjadi bagian dari kekuatan visual yang ditampilkan.
Darwis mengatakan, dirinya merupakan fotografer yang masih memegang prinsip old school. Ia memulai perjalanan fotografi dengan mempelajari dasar-dasar yang menurutnya menjadi esensi seorang fotografer.
“Saya ini orang yang old school. Jadi belajar fotografi itu betul-betul dari basic yang betul-betul esensi fotografer,” kata Darwis.
Perjalanan tersebut dimulai sekitar 47 tahun lalu. Pada awalnya, Darwis lebih banyak mendalami genre fotografi potret manusia. Ia bahkan sempat membatasi diri hanya memotret model perempuan.
Namun, dari fotografi potret itulah ia justru menemukan ketertarikan terhadap bagaimana cahaya dapat membentuk karakter seseorang.
“Pada saat saya dulu belajar fotografi, saya lebih masuk ke genre potret, manusia. Dari situlah saya belajar bagaimana mencakupkan sebuah lukisan potret yang baik menjadi karya fotografi,” ujarnya.
Salah satu teknik yang kemudian ia pelajari secara serius adalah Rembrandt lighting. Rasa penasarannya terhadap teknik pencahayaan tersebut membuat Darwis datang hingga ke Belanda dan Amsterdam untuk melihat serta mempelajari karya Rembrandt secara langsung.
“Saya pelajari Rembrandt itu apa. Saya sampai ke Belanda, saya sampai ke Amsterdam, saya sampai ke museum. Saya lihat tekniknya,” tuturnya.
Dari proses tersebut, Darwis menemukan satu hal yang menurutnya menjadi dasar fotografi, yakni cahaya.
“Fotografi itu cahaya. Tanpa cahaya kita tidak bisa motret,” katanya.
Namun, cahaya bagi Darwis bukan sekadar persoalan teknis. Ia melihat cahaya sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dan energi manusia.
“Saya bilang matahari itu sumber cahaya, sumber kehidupan, sumber energi. Saya belajar bagaimana mengelola cahaya, bagaimana mengelola energi, bagaimana mengelola cara hidup kita,” ujarnya.
Pemahaman itu kemudian membentuk pendekatan Darwis dalam fotografi potret. Ia tidak hanya belajar bagaimana menempatkan cahaya, tetapi juga bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang yang berada di depan kameranya.
“Karena profesi saya memotret orang, saya harus belajar. Bukan hanya teknik saja, tapi saya masuk belajar bagaimana saya berkomunikasi, bagaimana saya berinteraksi, bagaimana saya belajar human psychology,” katanya.
Menurut Darwis, kemampuan memahami manusia tidak harus diperoleh melalui pendidikan formal. Interaksi sederhana dengan orang lain juga menjadi bagian dari proses belajar.
“Tidak harus secara akademis. Ngobrol saja, komunikasi. Itu yang menjadikan hal yang menarik buat saya,” ujarnya.
Dari pengalaman hampir lima dekade tersebut, Darwis melihat perkembangan teknologi digital dan AI sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti. Menurutnya, fotografer justru harus terus berkembang dan memahami teknologi tanpa kehilangan dasar fotografi.
“Fotografi saat ini sudah sangat berkembang, terutama dalam kaitannya dengan teknik fotografi. Sekarang dengan sistem digital, kita lebih banyak terikat dengan sebuah mesin atau artificial intelligence,” kata Darwis.
Meski teknologi terus berkembang, ia yakin ada bagian dari fotografi yang tidak dapat digantikan AI, terutama ketika berbicara mengenai potret manusia.
“Memotret, membuat potret itu tidak akan bisa dikalahkan dengan teknologi, baik AI, karena tidak ada energi,” tegasnya.
Energi yang dimaksud Darwis berkaitan dengan hubungan antara fotografer dan manusia yang menjadi subjek. Menurutnya, proses pemotretan bukan sekadar menekan tombol kamera, tetapi menciptakan komunikasi dan rasa.
“Yang paling penting adalah ternyata hubungan antara manusia dan manusia di luar sebagai pekerjaan kita itu menarik. Sangat menarik,” katanya.
Bahkan, hubungan yang bermula dari pekerjaan fotografi tidak jarang berkembang menjadi persahabatan.
“Ada orang yang mungkin tidak pernah kelihatan hubungannya sama bisnis saya, sama kegiatan saya, tapi kita bersahabat. Nah, itulah yang menjadi spirit pekerjaan saya,” ujar Darwis.
Ia mengaku fotografi kini telah menjadi bagian dari kehidupannya. Setelah puluhan tahun berkarya, ia tidak lagi menjadikan materi sebagai tujuan utama.
“Fotografi saya masukkan ke dalam hidup saya. Jadi apa pun yang saya lakukan di fotografi, saya sudah tidak melihat lagi dalam bentuk materi. Buat saya, fotografi menjadi spirit,” tuturnya.
Menurut Darwis, ketika seseorang menjalankan profesinya dengan ketulusan dan spirit, pekerjaan tidak lagi terasa sebagai beban.
“Apapun yang kita lakukan, dengan betul-betul keikhlasan kita, dengan spirit kita, itu tidak bakal capek. Dimensinya berbeda,” katanya.
Darwis pun berharap fotografer tidak merasa terancam dengan kehadiran teknologi. Ia justru mendorong fotografer untuk terus berkembang dengan tetap mempertahankan unsur manusia dalam karya.
“Setiap fotografer yang berkembang tanpa kita takut atau khawatir dengan teknologi. Pada akhirnya fotografi akan langgeng kalau kita tetap melakukan dengan segala sesuatu yang terkait dengan manusia,” ujarnya.
Pandangan tersebut mendapat apresiasi dari Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan Achmad Purwantono. Rivan menilai perjalanan 47 tahun Darwis Triadi di dunia fotografi menunjukkan konsistensi yang membuatnya layak disebut sebagai maestro.
“Seorang maestro tidak dilihat kapan belajarnya, tetapi dari konsistensinya. Dari dulu sampai sekarang, karakteristik hasil fotografinya berbeda dan itu patut kita jaga. Ini betul-betul maestro, legenda yang belum tergantikan,” ujar Rivan.
Rivan mengaku memiliki pengalaman menjadi objek foto Darwis. Awalnya, pemotretan tersebut dilakukan untuk kebutuhan foto seragam kantor. Namun, hasilnya justru membuat Rivan terkejut.
“Saya kalau lihat langsung sebenarnya tidak ada apa-apanya. Tetapi begitu difoto, saya kaget dengan hasil foto saya sendiri,” katanya.
Menurut Rivan, kekuatan foto tersebut tidak hanya berasal dari teknik lighting. Ada proses komunikasi dan energi yang dibangun Darwis bersama subjek hingga menghasilkan karakter yang berbeda.
“Saya merasakan bahwa tidak cuma sekadar lighting. Tadi berbicara tentang sinar, bahwa sinar yang menghasilkan sebuah karakter,” ujarnya.
Rivan mengatakan pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa karya Darwis memiliki karakter khas yang perlu dijaga.
“Pada waktu itu dengan interview, dengan dibangun, dengan energi yang luar biasa, kemudian menciptakan rasa. Pertama kali saya mengagumi sesuatu yang tidak pernah saya perkirakan hasilnya,” tuturnya.
Ia berharap Darwis tetap sehat dan terus menghasilkan karya yang dapat menjadi warisan bagi generasi fotografi berikutnya.
“Saya selalu berharap Master Darwis selalu sehat. Ini penting, masih banyak yang harus dilahirkan untuk menjaga karakter yang pernah dibuat,” kata Rivan.
Sementara itu, Commercial Director Sudamala Resorts, I Wayan Suwastana, mengatakan Sudakara ArtSpace memang disiapkan sebagai ruang untuk mempertemukan seni dengan komunitas. Berbagai pameran, mulai dari fotografi hingga lukisan, secara berkala digelar di ruang tersebut.
“Tempat ini kami dedikasikan terutama bagi komunitas lokal. Salah satu pilar kami adalah bagaimana kami tumbuh bersama dengan local community, sembari kami melakukan bisnis di Sudamala,” ujar Wayan.
Ia mengatakan kehadiran Darwis Triadi menjadi kesempatan bagi komunitas seni dan fotografi di Bali untuk melihat karya sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan fotografi.
“Seni bukan hanya sesuatu untuk dinikmati, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menghubungkan, dan mengajak kita melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda,” katanya.
Selain pameran, Darwis Triadi akan memimpin workshop fotografi eksklusif pada Jumat, 4 September 2026, mulai pukul 15.00 WITA. Workshop tersebut ditujukan bagi pencinta fotografi, fotografer pemula, hingga profesional kreatif. Materi yang dibahas antara lain visual storytelling, artistic direction, dan proses kreatif yang membentuk perjalanan Darwis selama puluhan tahun.
Melalui A Portrait of Human Art, Darwis membawa satu pesan di tengah perkembangan AI yang semakin pesat: teknologi dapat membantu fotografi berkembang, tetapi hubungan manusia, komunikasi, cahaya, karakter, dan energi dalam sebuah potret tetap menjadi bagian yang tidak mudah digantikan mesin. (RED-BN)

