Alaya Resort Ubud Gelar Piodalan, Sawah dan Tradisi Bali Jadi Pengalaman Tamu

0
59

Balinetizen.com, Ubud-

Alaya Resort Ubud menggelar Piodalan Agung di area Padmasana, Rabu (7/10/2026), sebagai bentuk rasa syukur sekaligus komitmen menjaga hubungan harmonis dengan alam, masyarakat, dan tradisi Bali.

Rangkaian upacara telah dimulai sejak 5 Oktober melalui ritual Nunas Tirta di sejumlah pura di kawasan Padang Tegal dan Ubud. Sehari sebelum puncak upacara, karyawan dari berbagai departemen juga terlibat dalam kegiatan Mereresik, lomba Mayasan Pelinggih, hingga merangkai Gebogan. Puncak Piodalan diawali dengan Mecaru dan dilanjutkan persembahyangan bersama pada sore hari. Tari Rejang Renteng yang dibawakan karyawan turut menjadi bagian dari rangkaian upacara.

 

Chief Operating Officer (COO) Alaya Hotels & Resorts sekaligus General Manager (GM) Alaya Resort Ubud, Dewi Mas.

Chief Operating Officer (COO) Alaya Hotels & Resorts sekaligus General Manager (GM) Alaya Resort Ubud, Dewi Mas, mengatakan Piodalan tahun ini menjadi momen penting karena bertepatan dengan sasih keempat dalam kalender Bali.Menurutnya, upacara tersebut tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur atas perkembangan bisnis setelah pandemi COVID-19, tetapi juga bentuk terima kasih kepada alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Alaya Resort Ubud. “Jadi, hari ini adalah wujud kami bersyukur atas perkembangan yang luar biasa dan kami juga tetap bisa berkontribusi kepada desa adat,” ujar Dewi Mas.

Dewi menjelaskan, jika dihitung sejak masa pemulihan COVID-19 pada Maret 2022, Piodalan tahun ini merupakan yang kedelapan di Alaya Resort Ubud. Pihaknya juga tidak pernah benar-benar menutup operasional hotel selama pandemi dan telah melakukan investasi untuk perbaikan sejak 2021. Menurut Dewi, perkembangan Ubud dalam beberapa tahun terakhir juga semakin kuat, khususnya dari pasar Asia. Ia menyebut pasar China mulai kembali melalui platform pemesanan daring Ctrip, disusul pasar Korea, Jepang, Australia, Eropa, Amerika, serta wisatawan domestik. “Kalau di sini, saya bisa bilang 45 persen adalah Asia, 30 persen Eropa, ada Amerika dan Australia, domestik juga ada. Tapi domestik kami masukkan kategori ke Asia,” katanya.

Baca Juga :   Penyidik Polres Metro Jakarta Barat memeriksa direktur PT. ASA berinisial Y sebagai tersangka kasus penimbunan obat untuk pasien COVID-19

Seiring meningkatnya pasar, Alaya Hotels & Resorts juga memperluas portofolionya. Dewi menyebut sebelumnya Alaya memiliki tiga properti dan kini berkembang menjadi lima. Salah satunya melalui kehadiran Alaya Ground yang menawarkan fasilitas kuliner dan pengalaman bagi pengunjung yang tidak menginap di hotel, termasuk Pison, Pison 2, Conti, Ryujin, Pinkies, dan Corte. Di sisi lain, Alaya Resort Ubud tetap mempertahankan keberadaan persawahan yang berada di kawasan hotel. Dewi menyebut sekitar 35 persen dari total lahan yang disewa masih berupa area persawahan. Hasil sawah tersebut juga tetap dibagikan kepada desa, sementara pengelolaannya melibatkan petani lokal dari Subak. “Komitmen kami kepada desa adat, kami tetap menjalankan sawah,” ujarnya.

Menurut Dewi, keberadaan sawah tersebut menjadi bagian dari hubungan Alaya dengan Desa Adat Padangtegal. Ia menceritakan lahan yang kini menjadi bagian dari kawasan Alaya sebelumnya sempat akan dibeli perusahaan multinasional untuk pembangunan hotel. Namun, melalui komunikasi dengan desa adat, akhirnya ditempuh skema sewa sehingga lahan tersebut tetap dapat dipertahankan. Daripada mengubah seluruh lahan menjadi bangunan hotel, Alaya memilih mempertahankan sawah sekaligus mengembangkan kawasan kuliner. Dewi bahkan menyebut keputusan tersebut secara bisnis memiliki nilai yang setara dengan potensi penambahan sekitar 100 kamar. “Daripada menghilangkan sawah ini, kita justru bisa memberikan nilai yang setara dengan menambah 100 kamar lagi,” katanya.

Keberadaan sawah dan tradisi Bali tersebut juga menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang menginap. Salah satu tamu Hotel, Jan En, mengaku baru pertama kali datang ke Bali. Ia dan istrinya Annet Veuger kebetulan dapat menyaksikan langsung prosesi Piodalan di Alaya. “Ini pertama kalinya kami ke Bali dan hari ini adalah hari kedua kami. Kami sudah tahu bahwa upacara ini akan berlangsung, tetapi mengalaminya secara langsung sangat istimewa bagi saya dan istri. Bisa melihat, merasakan suasananya, dan memahami apa yang sedang berlangsung benar-benar menarik,” ujar Jan.

Baca Juga :  2 Tewas, Korban Longsor Di Kedewatan

Jan mengaku awalnya tidak memahami apa yang sedang berlangsung. Namun, setelah mendapatkan penjelasan mengenai prosesi tersebut, ia semakin menikmati pengalaman itu. “Saya sangat menyukainya. Awalnya saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi sekarang saya mengerti karena Anda sudah menjelaskannya kepada saya. Terima kasih,” katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Annet Veuger, yang justru tertarik dengan persawahan di kawasan Alaya. Ia mengaku baru pertama kali melihat secara langsung proses pengelolaan sawah, mulai dari penanaman hingga padi siap digunakan. “Ini sangat menarik. Saya sebelumnya belum pernah melihat persawahan seperti ini. Sangat menarik melihat bagaimana cara menanam padi, kapan padi mulai siap dipanen, dan bagaimana hasilnya digunakan. Sebelumnya saya tidak membayangkan prosesnya seperti ini,” ujar Annet.

Menurut Annet, informasi tentang persawahan sebelumnya hanya ia dengar dan baca. Namun, melihat langsung, merasakan suasana, serta berbicara dengan pemandu membuat pengalaman tersebut menjadi lebih menarik. “Selalu menyenangkan bisa berada langsung di tempatnya, merasakan suasananya, melihatnya, dan berbicara dengan pemandu tentang bagaimana padi itu tumbuh. Tempat ini juga sangat bagus. Upacaranya dan sawahnya sama-sama sangat menarik,” katanya.

Dewi menegaskan, keterlibatan tamu dalam Piodalan bukan sekadar aktivitas wisata, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Bali secara lebih dekat dengan tetap menghormati tata cara dan konteks tradisi setempat. Menurutnya, kekuatan hubungan dengan masyarakat dan desa adat juga menjadi bagian penting dalam keberlangsungan Alaya di Ubud. Hal tersebut salah satunya terlihat ketika kawasan Ubud menghadapi persoalan kemacetan akibat perubahan rekayasa lalu lintas.

Dewi menilai peran desa adat di Ubud sangat kuat. Ia menyebut keputusan untuk mengembalikan rekayasa lalu lintas dari skema kedua ke skema pertama turut membantu kondisi lalu lintas di kawasan Pengosekan. “Desa adat sangat kuat. Makanya kita di area ini sangat menjaga hubungan dengan desanya. Karena desanya bisa membantu kelancaran ini semua,” ujarnya.

Baca Juga :  Puncak Pujawali di Pura Dalem Sakenan saat Hari Suci Kuningan, Ida Bhatara Nyejer Hingga 15 Agustus

Ia juga melihat kemacetan dari sisi berbeda. Menurut Dewi, tingginya aktivitas di Ubud menunjukkan banyak orang masih memiliki kepentingan terhadap kawasan tersebut, mulai dari wisatawan yang menginap, pekerja, hingga pengunjung yang datang untuk makan dan menikmati daya tarik Ubud. “Semua orang ingin menikmati daya tarik Ubud, tidak cuma yang menginap. Karyawan yang bekerja ke Ubud, orang yang ingin makan dan minum ke Ubud, semua punya kepentingan,” katanya.

Bagi Alaya Resort Ubud, keberadaan Piodalan, persawahan, dan hubungan dengan desa adat menjadi bagian dari konsep keramahtamahan yang tidak hanya menjual pengalaman menginap. Tradisi dan lingkungan justru dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan hotel sekaligus ruang bagi wisatawan untuk mengenal Bali secara lebih dekat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here