Anatomi Resesi Ekonomi (Tantangan bagi Perekonomian Bali)

0
296
I Gde Sudibya, ekonom, konsultan dan pengamat ekonomi.

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Oleh: I Gde Sudibya

Badan Pusat Statistik (BPS) Kamis (5/11/2020), telah merilis data ekonomi Indonesia, sampai triwulan  III – 2020.

Sebagaimana diberitakan dan diulas Kompas (6/11),  pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh negatif di Triwulan ke III 3,49 persen, lebih rendah dari triwulan II tumbuh negatif 5,32 persen. Dua triwulan berturut-turut tumbuh negatif, per teori kita memasuki masa resesi.

Pertumbuhan negatif di triwulan ke III 3,49 persen, dapat dirincikan: dari 17 sektor usaha penopang ekonomi, 10 sektor usaha masih tumbuh negatif  dengan kontraksi paling dalam  pada sektor  akomodasi, makanan-minuman, transportasi dan pergudangan, perdagangan, konstruksi serta pertambangan dan juga usaha industri pengolahan.

Dari sisi ketenagakerjaan, menurut BPS pandemi  telah meningkatkan angka pengangguran  2,56 juta, sehingga total angka pengangguran terbuka menjadi 9,77 juta. Pandemi juga menyebabkan rata-rata upah buruh turun 5,18 persen menjadi Rp.2,76 juta per bulan.

Perlu diberikan catatan dari data BPS, kinerja ekonomi di triwulan III (Juli-September) lebih baik dari triwulan sebelumnya, tumbuh positif 5,05 persen, yang distimulasi oleh belanja pemerintah cukup tinggi: belanja bansos, pembelian barang dan jasa, belanja pegawai, pemberdayaan sosial dan biaya penanggulangan bencana. Pada sisinya yang lain, konsumsi rumah tangga masih minus 4,04 persen  dan investasi masih minus 6,48 persen.

Ini berarti  pertumbuhan ekonomi 5,05 persen di triwulan ke III dibandingkan dengan triwulan ke II, mesin pertumbuhannya dari belanja pemerintah.

Tantangan dalam pengelolaan ekonomi Bali.
1. Belanja pemerintah harus digenjot secara maksimal, bansos, belanja pegawai, belanja barang modal, termasuk belanja untuk peningkatan jumlah test pandemi,  penelusuran dan penunjang sistem kesehatan.
2. Dana  talangan untuk penyelamatan industri pariwisata menghindari risiko kebangkrutan, segera bisa direalisasikan dengan memberikan keluwesan pada pemda setempat  untuk melakukan diskresi sesuai kondisi di lapangan.
3. Sistem perbankan diharapkan lebih aktif  mendorong pertumbuhan investasi sektor swasta, untuk kalangan UMKM pada jenis KUR dan sejenisnya, dan kemudian berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di triwulan ke IV.

Baca Juga :  Pastikan Perayaan Malam Natal Berjalan Aman dan Kondusif, Pemkab Badung Laksanakan Pemantauan

Tentang Penulis

I Gde Sudibya, ekonom, konsultan dan pengamat ekonomi.

 

Editor : Mahatma Tantra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here