Diduga Gara-Gara Handphone, Ketut Eka Budiarta Tewas Gantung Diri Dan Tinggalkan Surat Permintaan Terakhir Kepada Teman Dan Ibunya

0
394
Yayasan Dana Punia, Singaraja.

Balinetizen.com, Buleleng-

 

Ketut Eka Budiarta berusia 14 tahun yang masih duduk dibangku sekolah SMP Kelas II, berasal dari Dusun Kubusalya, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, merupakan salah satu penghuni Yayasan Dana Punia, Singaraja. Dimana pada Minggu sekitar Pukul 15.30 Wita ditemukan sudah tidak bernyawa lagi dalam posisi gantung diri menggunakan tali plastik dikayu usuk diruang kosong yang ada di yayasan Dana Punia Singaraja.

Peristiwa gantung diri ini, sontak saja menghebohkan warga penghuni yayasan tersebut. Diperkirakan korban mengakhiri hidupnya, sekitar Pukul 13.00 Wita usai makan siang yang biasanya para penghuni istirahat siang. Selanjutnya jenazah korban, sekitar Pukul 22.00 Wita dibawa kerumah duka, dan sekitar Pukul 24.00 Wita, jenazah tiba dirumah duka di Dusun Kubusalya, Desa Sukawana, Kintamani. Dan menurut rencana, korban dikuburkan pada Kamis, (31/12/2020) di kuburan (setra) desa setempat.

Korban Ketut Eka Budiarta sebelum mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, terlebih dahulu membuat surat wasiat kematian.

Pada intinya isi surat tersebut, sikorban ini mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya yang selama ini telah membuat ia bahagia dan meminta maaf kalau ada kesalahan dalam hidupnya. Begitu juga ia meminta kepada kawan-kawannya diyayasan agar taat mengikuti aturan yayasan. Kepada temannya dikamar 4 yakni Angga, ia mengucapkan terimakasih karena telah menasehatinya. Namun ia meminta maaf karena tidak bisa menuruti nasehatnya Angga.

Permintaan terakhir dalam suratnya itu yakni doanya agar mendapat jalan yang terang. Meminta maaf apabila punya salah. Meminta temannya agar rajin belajar, dan berdoa/sembahyang. Meminta agar menjaga kebersihan, taati peraturan yang ada di panti asuhan dana punia Singaraja. Meminta agar jangan sampai ibu bapak panti sampai kecewa dan juga orang tua kandung kalian. Meminta jangan ikuti perilakunya, maaf jika ada kata-kata yang salah. Suksma

Baca Juga :  Ketua Dewan Nilai Rancangan APBD TA 2022 Telah Sesuai Rancangan Anggaran

Selain membuat permintaan terakhir kepada teman temannya di panti asuhan, korbanpun membuat pesan kepada ibunya.

Bunyi pesannya, “mek jani ketut luas malunan, ulian ketut be med jak masalah HP ane ngeranayang ketut malunan mulih kemu. Ampurayang ketut jak mekejang yen ketut ngelah pelih jani ketut ngidih pelih. Ape karena ade ketut ane ngeranayang memek/bapak tusing bagie. Amonto pengidih ketute yen ketut ngelah pelih ampurayang ketut. Doa ketut apang sing ade halangan ditu. Suksma

Informasi yang diterima dari teman-teman satu yayasan dengan korban, dikatakan sejak tiga hari sebelum kejadian bunuh diri, si korban ini sudah membawa tali dan mengatakan akan bunuh diri. Hal ini tidak disikapi serius oleh teman-temannya, karena dianggap hanya bahan candaan saja.

“Tali itu dipakai mainan, kadang-kadang tangannya diikat, lalu lehernya diikat. Sikap aneh ini dilakukan sejak tiga hari lalu.” ujarnya.

Sementara itu, Ketua yayasan Dana Punia Singaraja Gede Arba Dana,SH saat dikonfirmasi metrobali.com, Senin, (27/12/2020) siang di Yayasan Dana Punia Singaraja mengatakan motif dari korban melakukan bunuh diri dengan cara menggantung dirinya sendiri itu, lantaran ingin memiliki handphone tidak kesampaian.

”Kondisi ekonomi orang tuanya yang ada di Kintamani sangat memperihatinkan. Jangankan untuk membeli handphone, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat kesulitan.” ujarnya.

”Rumahnya saja gubuk yang ditempati banyak orang, sungguh miris keadaan ekonomi orang tua korban.” jelas Arba Dana.

Iapun mengatakan aturan di yayasan cukup ketat, salah satunya para penghuni yayasan tidak boleh memiliki handphone, agar bisa menyesuaikan diri dengan keadaan tidak mampu.

”Para penghuni yayasan, selain anak yatim piatu, juga anak dari orang yang tergolong tidak mampu. Sehingga aturan ketat kami terapkan untuk tidak memiliki handphone. Logikanya punya handphone jelas butuh pulsa dan juga bisa memunculkan masalah baru yakni saling iri antar sesama penghuni yayasan, terutama bagi penghuni yang tidak punya handphone. Disamping itupula, bisa merubah pola gaya hidupnya sebagai orang yang tidak mampu.” urai Arba Dana.

Baca Juga :  Buka Pendidikan dan Pelatihan Diklat SDM Usaha Mikro,Bupati Suwirta : Pelaku Usaha Tumbuhkan Jiwa Wirausaha Dalam Diri

”Dengan adanya peristiwa ini, maka kami akan lebih perketat lagi masalah handphone ini, dimana bila ditemukan ada yang memiliki handphone, maka akan dikeluarkan dari yayasan, dan dikembalikan ke desa asal.” tandasnya. GS

 

Editor : Mahatma Tantra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here