Masyarakat Jembrana Respon Layanan Kedaruratan JES

0
279
Plt Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Darrah (BPBD) Jembrana, Komang Dhiyatmika dilaporkan sekitar pukul 13.45 oleh Arya W, salah satu warga Desa Tuwed, Kecamatan Melaya.

Balinetizen.com, Jembrana-

 

Pasca dilaunching hari Jumat (5/3) lalu layanan kedaruratan berbasis IT (Informasi Teknologi) Jembrana Emergency Service (JES) mendapat respon dari masyarakat. Seperti kejadian cabang pohon mahoni yang patah, Selasa (9/3) siang.

Kejadian tersebut menurut Plt Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Darrah (BPBD) Jembrana, Komang Dhiyatmika dilaporkan sekitar pukul 13.45 oleh Arya W, salah satu warga Desa Tuwed, Kecamatan Melaya.

“Sudah kami tindaklanjuti tadi siang. Kejadiannya disebelah barat Kantor Desa Tuwed” ujar Dhiyatmika ditemui di Kantor BPBD Jembrana, Selasa (9/3).

Disebutnya setiap kejadian bencana alam yang dilaporkan tidak serta merta ditindaklanjuti. Namun terlebih dulu dilakukan konfirmasi kepada si pelapor. Karena nama, nomor telpon (HP) dan alamat atau lokasi terlapor sudah tercatat dalam sistem.

“Konfirmasi ini tujuannya untuk memastikan apakah kejadian yang dilaporkan itu memang benar terjadi atau tidak” jelas Dhiyatmika yang juga Sekdis pada Sat Pol PP Jembrana.

Layanan kedaruratan juga terintergrasi dengan OPD lainnya diantaranya, Sat Pol PP, Dinas Kesehatan (RSU, Puskesmas), Dinas Sosial serta Dinas Pertanian dan Pangan dengan BPBD sebagai kontrolnya.

Hanya saja jika kejadian yang dilaporkan bukan bencana alam, alarm di ruang kontrol Pusat Pengendali Operasional Penanggulangan Bencana (Pusdalop PB) tidak berbunyi. Namun yang muncul hanya notifikasi saja.

“Seumpama terjadi kebakaran, alarm yang bunyi alarm yang ada di Sat Pol PP yang menangani kebakaran karena sudah terkoneksi. Beda kalau terjadi bencana, sudah pasti alarm disini (BPBD) yang bunyi” jelasnya.

Demikian juga jika ada warga yang memerlukan ambulan karena Covid-19. Jika selang waktu 5 menit belum mendapat respon dari puskesmas, petugas di ruang kontrol Pusdalop PB akan melakukan konfirmasi menanyakan ke puskesmas terdekat dari si pelapor.

Baca Juga :  Ka Kwarda Bali: Haruslah Bangga Jadi Seorang Pramuka

“Kita tahunya dari layar kontrol laporan. Kalau sudah dilayani akan muncul kata “Sukses”. Kalau kata itu (Sukses) belum muncul berarti belum dilayani atau masih dalam proses. Karena yang melaporkan itu dari petugasnya sendiri” terangnya.

Guna memberikan layanan kedaruratan yang prima sambung Dhiyatmika, pihaknya menugaskan empat orang petugas operator yang terbagi dalam dua shift.

Pasca dilaunching Jumat (5/3) lalu hingga Selasa (9/3) pukul 14.30 Wita terpantau 14 laporan warga. Namun setelah dilakukan konfirmasi sebagian besar laporan yang masuk tidak valid. “Setelah kita konfirmasi ternyata mereka mencoba. Karena baru, kita maafkan. Kita juga himbau supaya tidak mengulanginya” pungkasnya. (Komang Tole)

 

Editor : Mahatma Tantra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here