Bank Indonesia Bali Bekali Jurnalis Pemanfaatan AI untuk Perkuat Jurnalisme Ekonomi

0
164

Balinetizen.com, Kalimantan Timur

 

Bagaimana jurnalis tetap relevan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan Capacity Building Sobat Media Bank Indonesia (BI) Bali yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, 1–3 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut membekali puluhan jurnalis di Bali dengan pengetahuan mengenai pemanfaatan teknologi AI dalam proses produksi karya jurnalistik, khususnya dalam mengembangkan pemberitaan ekonomi yang lebih tajam, terukur, dan relevan bagi pembaca.

Kepala Divisi Implementasi KEKDA Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Renold Asri, mengatakan kegiatan capacity building tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi wartawan ekonomi di Bali.

“Capacity building wartawan ini tentunya dalam rangka meningkatkan kompetensi wartawan ekonomi Bali yang saat ini berjumlah cukup banyak,” kata Renold.

Menurutnya, pemanfaatan AI dipilih sebagai tema karena perkembangan teknologi tersebut semakin cepat dan dapat membantu wartawan dalam berbagai tahapan pekerjaan jurnalistik.

“Kami harapkan dengan capacity building dengan tema-tema yang tematik—kebetulan saat ini temanya adalah bagaimana mengoptimalkan AI dalam rangka pemberitaan jurnalistik dari teman-teman media, sehingga berita-berita yang dihasilkan dari penggunaan tools-tools AI dengan bantuan tools AI itu memberikan manfaat pemberitaan yang lebih tajam, terukur, dan juga memberikan manfaat buat target pembacanya,” ujarnya.

##Jurnalis Menghadapi Perubahan dari SEO ke GEO##

Narasumber Capacity Building Sobat Media BI Bali, Didit Ahendra Susanto, General Manager Teknologi dan Informasi Media Bisnis Indonesia, menjelaskan bahwa perkembangan AI turut mengubah cara masyarakat mencari dan memperoleh informasi.

Menurut Didit, terjadi pergeseran dari pola pencarian yang selama ini banyak berorientasi pada Search Engine Optimization (SEO) menuju Generative Engine Optimization (GEO).

Baca Juga :  Harapkan Pariwisata Secepatnya Dibuka, Ny. Putri Koster Ajak Masyarakat Tingkatkan Kesadaran Prokes Yakinkan Internasional

“Dengan pelatihan ini diharapkan para jurnalis bisa memahami perubahan pencarian di era AI untuk jurnalisme ekonomi Bali,” jelas Didit.

Jika sebelumnya pembaca cenderung memasukkan kata kunci ke mesin pencari kemudian membuka sejumlah tautan, kini perkembangan platform berbasis AI memungkinkan pengguna mendapatkan rangkuman atau jawaban secara langsung.

“Tren tersebut harus diikuti. Meski demikian, AI hanyalah sebatas alat bantu dalam keredaksian,” ujarnya.

Perubahan tersebut membuat media perlu memahami bagaimana informasi diproduksi sekaligus bagaimana informasi tersebut ditemukan oleh pembaca di tengah perkembangan mesin pencari generatif.

##Trafik Bukan Lagi Satu-satunya Ukuran##

Perubahan perilaku pencarian informasi juga berdampak terhadap cara media melihat distribusi dan keberhasilan sebuah konten.

Didit mengatakan trafik ke website tidak lagi dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah media dalam menjangkau pembaca.

“Saat ini memang terjadi pergeseran tersebut dimana saat ini trafik bukanlah goal. Orang tetap mencari informasi di search engine atau AI platform, namun tidak selalu mengklik ke website karena jawaban sudah tersedia di sana,” katanya.

Karena itu, media dituntut menghasilkan informasi yang memiliki struktur jelas, data yang kuat, konteks yang memadai, serta kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks GEO, artikel jurnalistik tidak cukup hanya mengandalkan kata kunci. Informasi harus mampu menjawab kebutuhan pembaca secara langsung dengan tetap berpegang pada fakta dan prinsip jurnalistik.

##AI Membantu Proses Produksi, Bukan Menggantikan Jurnalis##

Narasumber lainnya, Emanuel Berkah Caesario, General Manager Konten sekaligus Redaktur Pelaksana Bisnis Indonesia, mengatakan perkembangan teknologi tidak mengubah hakikat pekerjaan jurnalistik.

“Kerja jurnalisme tetap kerja jurnalisme. Yang berubah hanya proses produksinya,” tukasnya.

Menurut Emanuel, AI dapat membantu berbagai pekerjaan rutin di ruang redaksi. Sejumlah teknologi AI telah digunakan untuk mendukung pekerjaan seperti penyusunan bahan awal, transkripsi, pengolahan dokumen, hingga produksi konten multimedia.

Baca Juga :  PMI Jembrana Kembali Dipulangkan, Total Keseluruhan 158 PMI

Untuk kebutuhan transkripsi rekaman, misalnya, redaksi menggunakan sejumlah tools seperti Turboscribe, Lesson Scriptor, dan Pinpoint. Sementara untuk membantu menganalisis dokumen, digunakan Gemini Notebook atau NotebookLM.

AI juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembuatan konten multimedia, termasuk ilustrasi dan grafik.

Namun, Emanuel menegaskan bahwa kemampuan teknis tersebut bukan merupakan nilai utama seorang jurnalis.

“Semua ini pada akhirnya bisa dilakukan AI tanpa jurnalis. Bukan di sini nilai kita,” tegasnya.

Nilai jurnalisme tetap berada pada kemampuan manusia dalam menggali informasi, melakukan verifikasi, menentukan sudut pandang, memahami konteks, melakukan wawancara, menguji data, serta mempertanggungjawabkan informasi kepada publik.

##AI dan Masa Depan Jurnalisme Ekonomi Bali##

Bagi jurnalis ekonomi, pemanfaatan AI dapat membantu mempercepat sejumlah pekerjaan, mulai dari mengolah dokumen, mentranskrip wawancara, membaca data, menemukan pola informasi, menyusun bahan awal tulisan hingga mengembangkan materi visual.

Namun, seluruh hasil yang diperoleh dari AI tetap membutuhkan verifikasi oleh jurnalis.

Informasi mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, kebijakan pemerintah, investasi, pariwisata, UMKM maupun kebijakan Bank Indonesia harus diperiksa kembali berdasarkan sumber yang kredibel.

Hal tersebut menjadi penting karena pemberitaan ekonomi berkaitan dengan informasi yang dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan publik.

Perubahan dari SEO menuju GEO pada akhirnya menuntut media tidak hanya menghasilkan artikel yang mudah ditemukan, tetapi juga informasi yang jelas, faktual, kontekstual, dan terpercaya.

Dalam konteks jurnalisme Bali, kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika wartawan mengolah isu ekonomi daerah, mulai dari pariwisata, UMKM, inflasi, investasi hingga perkembangan ekonomi digital.

Dengan demikian, AI bukan pengganti jurnalisme. Teknologi tersebut menjadi alat bantu yang dapat mempercepat proses kerja, sementara kualitas dan tanggung jawab terhadap informasi tetap berada di tangan jurnalis.

Baca Juga :  Hooray School Denpasar Jadi Finalis Gapura Cinta Negeri Hut RI ke-74

 

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here