Balinetizen.com, Denpasar –
Sudakara ArtSpace yang berlokasi di Sudamala Resort, Sanur, dengan bangga mempersembahkan “Cycles & Journeys”, pameran seni tunggal oleh seniman Bali ternama Nyoman Handi Yasa. Pameran ini resmi dibuka pada Jumat, 19 Desember 2025, pukul 18.30 WITA, dan menjadi ruang reflektif atas perjalanan panjang sang seniman dalam memaknai siklus kehidupan dan proses berkesenian.
Pameran Cycles & Journeys merefleksikan ritme kehidupan, pergerakan, dan transformasi—menangkap perjalanan yang tampak maupun yang tak kasatmata dalam pengalaman manusia. Melalui bahasa visual khasnya, Handi Yasa mengeksplorasi siklus alam, ingatan, serta perjalanan spiritual yang berulang, menghadirkan dialog kontemplatif antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Alexander Ketjil Kosasie, dan dilengkapi refleksi tertulis dari penulis seni Made Susanta Dwitanaya.
Dalam teks kuratorialnya, Susanta memberikan pembacaan kritis terhadap kedalaman konseptual dan alur naratif karya-karya yang dipamerkan, menyoroti kepekaan Handi Yasa terhadap medium serta relasinya dengan alam.
Nyoman Handi Yasa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh undangan, guru, sahabat, serta pihak manajemen Sudamala Resort yang telah memberikan ruang dan kepercayaan untuk menyelenggarakan pameran tunggal ini.
“Pameran ini saya maknai sebagai siklus dan perjalanan—sebuah eksplorasi panjang dalam berkesenian. Harapannya, pameran ini dapat menjadi ruang apresiasi publik dan menghadirkan pengalaman yang bermakna dalam kehidupan sosial, lingkungan, dan budaya,” ujarnya, saat pembukaan, Jumat (19/12/2025).
Handi Yasa juga membacakan sebuah puisi yang merefleksikan gagasan pameran. Puisi tersebut menggambarkan kehidupan sebagai perjalanan yang terus bertumbuh, seperti bunga, ranting, dan cabang yang mengalami perubahan seiring waktu—sebuah metafora yang kuat atas relasi manusia dan alam.
Dikenal sebagai seniman lintas medium, Nyoman Handi Yasa tidak hanya berkarya di atas kanvas. Sejak 2013, ia mulai intens menggunakan bahan temuan dari alam, khususnya kayu pantai, ranting, dan material organik lainnya. Material tersebut dikumpulkan dari pesisir, sungai, hingga lokasi-lokasi alami, kemudian melalui proses panjang: dipahat secara manual, dikeringkan, lalu dilukis.
Tidak semua kayu pantai, menurut Handi, layak menjadi karya. Banyak yang telah rapuh, dimakan rayap, atau hancur secara alami. Namun justru dari keterbatasan itu ia memilih, menyusun, dan mengolah material hingga menjadi karya yang memiliki daya tahan sekaligus nilai artistik yang kuat.
Dalam pameran ini, Handi Yasa menampilkan 27 karya, meski beberapa karya lainnya tidak ditampilkan karena keterbatasan ruang dan bobot karya yang cukup berat.
Perjalanan Panjang Seorang Seniman Bali
Nyoman Handi Yasa berasal dari Desa Pemetukan, Tejakula, Buleleng. Ia telah melukis sejak kecil dan menjalani perjalanan seni yang panjang, berpindah dari satu medium ke medium lain. Menurut Made Susanta Dwitanaya, keistimewaan Handi Yasa terletak pada kepekaannya terhadap medium itu sendiri.
“Ia bisa menemukan inspirasi di mana saja—saat berjalan di pantai, di lantai, atau di studio pengukir. Medium bukan sekadar alat, tetapi bagian dari narasi karya,” ungkap Susanta.
Pemilihan karya dalam pameran ini juga mempertimbangkan relevansinya dengan isu alam dan kondisi lingkungan saat ini. Karya-karya Handi Yasa tidak hadir sebagai kritik keras, melainkan sebagai refleksi sunyi yang mengajak penonton merenung tentang relasi manusia, alam, dan waktu.
Diselenggarakan di Sudakara ArtSpace, pameran ini sekaligus menegaskan komitmen Sudamala Resort, Sanur, dalam mendukung seni kontemporer dan tradisional Indonesia melalui ruang-ruang pertemuan kreatif yang bermakna.
Pameran dibuka hingga 6 Januari 2026 mendatang.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

