Hari Kedua Banjir Sanur, WNA Pilih Bertahan: ‘We Live Here’

0
142

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

Memasuki hari kedua banjir yang melanda kawasan Kesari dan Bumi Ayu, Sanur, Kota Denpasar, genangan air yang sebelumnya mencapai kurang lebih satu meter hingga Rabu (25/2/2026) belum sepenuhnya surut.

Pantauan di lokasi, air masih setinggi lutut orang dewasa. Sejumlah warga dan wisatawan asing (WNA) terlihat tetap bertahan di rumah maupun penginapan mereka, meski wilayah tersebut masih tergenang.

Menariknya, beberapa WNA memilih tidak dievakuasi. Mereka mengaku sudah lama menetap di kawasan tersebut dan merasa menjadi bagian dari lingkungan setempat.

Mariana dari Cyrus mengaku tetap santai menghadapi banjir yang terjadi saat dirinya tengah berada di Sanur.

“Kami tinggal di Sanur selama beberapa hari, dan sekarang sedang banjir, tidak apa-apa, kami akan pergi ke Nusa Dua sekarang. Tentu saja ini kali kedua saya di sini, tentu saja ya begitulah adanya. Terakhir kali saya datang, saya mengalami hal-hal lain, sekarang mengalami ini, saya tidak punya pendapat,” ujarnya.

Sementara itu, seorang WNA asal Australia bernama Jordan juga menolak untuk dievakuasi. Ia bahkan tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

“No, no, we live here. I take mau nganter anak sekolah. Everyone okay. Because I live in 43 years. Is it bad condition? It’s okay, Bali still paradise,” katanya.

Meski demikian, ada pula wisatawan yang memilih pindah sementara dan mencari penginapan baru di lokasi yang lebih aman.

Warga Lokal: Sudah Biasa, Tapi Ini Paling Parah

Sikap serupa juga ditunjukkan warga lokal yang sudah lama bermukim di kawasan tersebut. Mereka mengaku tidak takut meski air berpotensi naik kembali jika hujan deras turun lagi.

Wayan Kecor (65), warga yang telah tinggal sekitar 40 tahun di lokasi itu, menyebut banjir tahunan sudah menjadi hal biasa. Namun, ia mengakui kondisi kali ini merupakan yang terparah.

Baca Juga :  Paripurna DPR sahkan RUU IKN menjadi undang-undang

“Saya tinggal di sini sudah sekitar 40 tahunan. Setiap tahun memang begini, sudah biasa jadinya. Walau banjir, saya tetap di sini, tidak pernah keluar.

Tapi ini paling parah. Dulu belum pernah airnya seperti ini. Penyebabnya kurang tahu. Mungkin bisa jadi karena sistem drainase, atau karena hujannya lebat jadi airnya full ke sini. Dua hari lalu hujan non-stop sampai pagi,” ujarnya.

Ia mengaku tetap bertahan karena memiliki warung di lokasi tersebut.

“Saya di sini ada warung. Takut kalau ditinggal, nanti ada apa-apa dan tidak ada orang. Istri dan anak di Sindhu. Saya tetap tinggal di sini, karena keadaan banjir. Kalau mau tidur baru pulang ke Sindhu.

“Harapan? Karena ini daerah cekungan, ya mau bagaimana. Saya tidak bisa ngomong apa-apa. Tidak boleh ngomong berlebihan walau memang keadaannya begini. Ya sudah, pasrah. Sudah biasa,” imbuhnya.

Biasanya paling dua hari kalau curah hujan lebat baru bisa surut. Semua air ke sini. Biasanya satu hari sudah surut, tapi yang terakhir ini lama,” jelasnya.

Hujan Non-Stop Sejak Sabtu

Sebagaimana diketahui, hujan dengan intensitas tinggi melanda Bali tanpa henti sejak Sabtu (21/2/2026). Puncaknya terjadi pada Senin (23/2/2026) hingga Selasa (24/2/2026), menyebabkan sejumlah titik di Kota Denpasar tergenang banjir.

Hingga Rabu pagi, genangan di kawasan Kesari dan Bumi Ayu, Sanur, masih belum sepenuhnya surut dan warga tetap bersiaga apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

 

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here