Mangrove Tahura Ngurah Rai Mati Terpapar Hidrokarbon, Peneliti Lakukan Uji Forensik Lingkungan

0
104

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

Ekosistem mangrove di kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai kini berada dalam kondisi darurat ekologis. Ratusan pohon mangrove di sisi barat pintu masuk Jalan Tol Bali Mandara dilaporkan mati mengering secara serentak pada awal 2026.

Kematian massal ini dinilai bukan fenomena alami. Berdasarkan hasil diagnosis kesehatan tanaman dan studi pustaka yang dilakukan tim peneliti, indikasi kuat mengarah pada pencemaran hidrokarbon (bahan bakar minyak) di kawasan mangrove Bali Selatan.

Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana yang dikordinatori oleh Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga menemukan gejala kerusakan yang konsisten sebagai penyakit abiotik, bukan akibat serangan patogen.

Gejala yang teridentifikasi meliputi: daun klorosis (menguning), daun nekrosis (kecoklatan), kulit batang mengelupas, ranting kering dan rapuh, akar membusuk atau menghitam, penebalan daun (sukulensi) dan pertumbuhan kerdil.

Pola kematian terjadi dalam blok vegetasi tertentu dan tidak menyebar sporadis. Ini memperkuat dugaan adanya paparan bahan kimia beracun yang terakumulasi pada substrat tanah mangrove.

Di area terdampak ditemukan jalur pipa distribusi BBM milik Pertamina yang membentang dari Pelabuhan Benoa menuju Terminal Pesanggaran.

Data koordinasi menunjukkan adanya kegiatan pemeliharaan pipa pada periode September–November 2025. Laporan menyebutkan dugaan rembesan minyak masuk ke substrat mangrove, sementara proses pembersihan (clean-up) diduga tidak dilakukan secara menyeluruh.

Meski pemeriksaan visual oleh Pertamina Patra Niaga pada 21 Februari 2026 tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air, para ahli menegaskan bahwa kontaminasi hidrokarbon dalam ekosistem mangrove umumnya terperangkap di dalam sedimen.

Minyak yang masuk ke pori tanah: menutupi sistem perakaran, menghambat pertukaran oksigen, merusak membran sel tanaman, mengganggu penyerapan nutrisi, menyebabkan kematian dalam hitungan minggu.

Baca Juga :  Perjalanan Spritual Tamba- Ipat , Ucapkan  Terimakasih dan Sampaikan Permohonan Maaf

Kondisi aliran air yang melambat akibat keberadaan Jalan Tol Bali Mandara turut memperparah situasi. Polutan tidak terbawa arus laut, melainkan terakumulasi di sekitar titik kebocoran.

Beberapa spesies utama yang terdampak antara lain:

Sonneratia alba (Prapat)
Batang kering dan rapuh, terdampak intensif sekitar 6 are.

Rhizophora apiculata (Bakau)
Daun menguning serentak di area sebaran ±60 are.

Avicennia marina (Api-api)
Akar membusuk/kering di blok barat tol.

Tim peneliti kini melakukan analisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) untuk memastikan kandungan senyawa hidrokarbon pada area rhizosfer mangrove.

Berdasarkan data lapangan dan kajian ilmiah, kematian mangrove di Bali Selatan paling kuat dipicu oleh: keracunan logam berat, kontaminasi hidrokarbon (BBM), akumulasi polutan dalam sedimen, gangguan hidrologi akibat pembangunan infrastruktur

Kasus ini memerlukan investigasi forensik lingkungan yang komprehensif karena kebocoran kecil pada pipa bawah tanah sering tidak terdeteksi secara kasat mata, namun berdampak sistemik pada ekosistem pesisir.

Para peneliti merekomendasikan langkah-langkah konkret:pemantauan rutin kesehatan mangrove sebagai sistem peringatan dini, isolasi dan aplikasi bakteri pendegradasi hidrokarbon sebagai agen bioremediasi, audit menyeluruh infrastruktur pipa bawah laut serta pemasangan sensor kebocoran real-time, moratorium dan evaluasi AMDAL di kawasan sensitif, rehabilitasi substrat sebelum penanaman ulang, penertiban status lahan Tahura untuk mengembalikan fungsi hutan lindung.

Ekosistem mangrove Tahura Ngurah Rai memiliki peran vital: penyerap karbon (carbon sink), pelindung abrasi dan tsunami, penyangga biodiversitas pesisir, penopang citra pariwisata hijau Bali.

Jika degradasi terus berlanjut, Bali Selatan berisiko kehilangan benteng alami terhadap perubahan iklim dan bencana pesisir. Krisis ini bukan sekadar isu lingkungan lokal, melainkan menyangkut keamanan wilayah dan keberlanjutan ekonomi berbasis pariwisata.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here