Balinetizen.com, Denpasar –
Kamis, 4 Desember 2025 raina Purnama Kenem, pujawali ring Pura Segara Pegonjongan, Br.Gretek, Desa Sambirenteng. Pura yang merupakan warisan Bali Mula yang kental, berada ring Segara “madu muka” dengan Alas Metaun, warisan alam dari era kerajaan Dalem Balingkang dengan raja ternama Cri Aji Jayapangus.
Warisan kepemimpinan dari Sang Raja, tradisi Agama Alam dalam ungkapan sederhana ke kinian: “Alas adalah panggungan untuk memuja Tuhan”, sistem kehidupan yang respek pada alam, membangun harmoni dengan Alam, ethos kerja yang berangkat dari keseimbangan Alam itu sendiri.
Revitalisasi tradisi Agama Alam menjadi semakin relevan pasca banjir bandang Bali 10 September 2025 dan Petaka Lingkungan November 2025 pasca banjir bandang menerjang Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat 25 November – 28 November 2025. Petaka Sumatra menimbulkan korban yang besar, menurut apdate data BNPB ratusan orang meninggal, ratusan orang dikabarkan hilang, 1,1 juta warga mengungsi, 3,3 juta warga terdampak. Petaka Sumatra diperkirakan akan menyusul dengan “luka” ekologis di pulau-pulau lainnya, paling tidak karena kombinasi telak dari: pengelolaan lingkungan yang ugal-ugalan dan sembrono bertemu dengan menjelang puncak krisis iklim.
Dalam salah satu Upanisad dinyatakan: “jika keserakahan menguasai manusia maka kecerdasan akan runtuh”. Petaka Sumatra memberikan penggambaran dari runtuhnya kecerdasan akibat keserakahan.
Kearifan pengaturan ruang Bukit Barisan ditinggalkan, menyebut beberapa dalam bahasa ke kinian, pertiwi yang subur pemberi kehidupan berubah menjadi tanah longsor dan kemudian banjir bandang menghancurkan kota, pemukiman yang dilaluinya. Tutupan hutan nan kaya, yang mencapai puncaknya di Gunung Kerinci, Gunung tertinggi di Bumi Nusantara (bentang Alam di sebelah Barat Laut Banda sampai Pulau W) yang menjadi “paru-paru bumi” Nusantara dihancurkan atas nama pembangunan dan modernisme.
Sejarah mengajarkan kerusakan alam parah akibat keserakahan manusia, nyaris tidak mampu dipulihkan, memerosotkan kualitas kehidupan generasi sekarang terlebih-lebih generasi berikut. Jika China dan India maju cepat peradabannya, kita di sini bisa mengalami kemunduran peradaban serius dan memalukan akibat luluh lantaknya alam, yang di masa lalu di sebut dengan “Jamrud Katulistiwa”.
Bagi Kita di Bali, panoroma Alam Bali yang indah sebelum tahun 1970’an, merupakan resultante dari ethos kerja yang respek pada Alam, kehidupan yang umumnya bersahaja, “berguru” pada Alam, kualitas kehidupan bertumbuh sejalan dengan irama Alam yang punya hukum dan dinamikanya sendiri. Karakter dan corak kehidupan yang semakin sirna di Bali dewasa ini.
Jro Gde Sudibya, intelektual, pengamat ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan.

