Ilustrasi
Balinetizen.com, Jakarta
Rencana pembelian 105,000 kendaraan mobil Niaga dari India dengan harga Rp.24,66 T, menggambarkan secara terang benderang perbedaan fraksi di internal elite Partai Gerindra. Hanya saja perbedaan kepentingan antar fraksi tidak diselesaikan secara internal, sehingga bisa menjadi bola panas yang “dilemparkan” ke Presiden Prabowo.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Rabu 25 Februari 2026.
Menurut Jro Gede Sudibya, tampaknya dalam banyak kasus, Presiden senang dengan posisi ini, menjadi “King maker” bagi isu-isu panas yang viral dan menarik perhatian publik.
“Dari segi pencitraan barangkali “oke”, tetapi dari perspektif manajemen strategis dan kepemimpinan efektif, kesan publik Presiden menjadi tidak fokus dalam mengelola isu-isu publik besar yang strategis. Contoh mutakhir, blunder dari kesepakatan perdagangan dengan AS yang secara telak merugikan Indonesia, hampir pada seluruh lini ekonomi bisnis,” katanya.
Dikatakan, dalam pertanian dan industri, liberalisasi perdagangan yang menguntungkan AS akan menekan pertumbuhan sektor pertanian dan industri manufaktur.
Menurutnya, pembebasan pajak bagi perusahaan raksasa AS di bidang digital ekonomi, akan merugikan media nasional dan pajak pendapatan bagi negara.
“Dalam kasus Australia, negara ini memperoleh pendapatan pajak iklan jutaan dolar AS dari kegiatan bisnis ekonomi digital,” kata Jro Gede Sudibya.
Menurutnya, konsesi Indonesia ikut dalam Board of Peace, ternyata tidak memperoleh kompensasi dalam perjanjian dagang, dan bahkan “kalah telak” dalam negosiasi.
“Dalam perjanjian dengan China tentang laut China Selatan, di kawasan Utara Natuna, implisit Indonesia mengakui klaim China untuk kawasan tsb. Kesepakatan yang juga tidak kalah blundernya,” katanya.
Menurut Jro Gede Sudibya, tantangan mendesak kepentingan Presiden Prabowo, menertibkan konflik kepentingan di internal partai Gerindra, dan juga di Kabinet Merah Putih, sehingga Presiden bisa lebih fokus dalam mengelola isu-isu strategis, dan mengambil keputusan yang lebih akurat.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

