118 Tahun AA Pandji Tisna, Raja Buleleng Terakhir, Sastrawan Religius Ternama Angkatan Pujangga Baru

0
212
Jro Gde Sudibya

Balinetizen.com, Denpasar –

 

118 tahun, hari lahir sastrawan ternama ini, pengarang sejumlah novel yang populer di masanya, menyebut beberapa: I Swasta Setahun di Bedahulu, Nyi Rawit Ceti Penjual Orang, Sukreni Gadis Bali (yang dibuat film), I Made Widiadi. Sastrawan angkatan Pujangga Baru, satu angkatan dengan sastrawan lainnya menyebut beberapa nama: Soetan Takdir Alisjahbana (STA), Amir Hamzah, Sanusi Pane, Armyn Pane. Seorang kritikus sastra menyatakan, dalam karya novel I Made Widiadi seorang kritikus sastra mengatakan, iman sang pengarang berada di Persimpangan Jalan, mungkin karena revolusi sosial di masa awal kemerdekaan, sang raja merasa “ditinggalkan” secara sosial oleh masyarakatnya.
Sastrawan ini lahir 11 Februari 1908 di Singaraja dan wafat 2 Juni 1978 dalam usia 70 tahun di Singaraja.
Bagi krama Desa Pakraman Tajun, pengempon Pura Pucak Sinunggal, sang raja insan manusia yang rendah hati dan religius. Sebagai Raja Buleleng, sekitar tahun 1940′ an, jika piodalan di Pura Pucak Sinunggal selalu tangkil dengan rombongan dengan sikap rendah hati dan sikap khusuk untuk tangkil ring Pura Dalem Dasar Tajun ngelantur ke Pura Pucak Sinunggal. Sambil menunggu Banten piuning sang raja ring mrajan Mekele Gede Tajun, bertanya ke masyarakat tentang kehidupan perdesasan terutama menyangkut hasil perkebunan. Bersama-sama menyantap hidangan yang disediakan, hidangan sehari-hari seperti: jukit undis, pindang dan sambel kecicang khas Tajun.
Setelah bercengkerama dengan warga, para pengering raja disaksikan oleh krama Desa, memasang bentangan kain putih dari Pura Dalem Dasar sampai Pucak Sinunggal, kira-kira 1,7 km, untuk ditapaki sang raja, pedek tangkil mebhakti ring Ida Bhatara-Bhatari Sami ring Pura Luur Pucak Sinunggal.
Sastrawan “penemu” tourist destination Lovina yang populer di Buleleng, Lovina yang menurut penuturan AA Ngurah Ugrasena, cucu laki-laki.pertama sastrawan ini, terinspirasi dari nama sebuah restoran yang ramai di Mumbai India ketika sastrawan ini menengok salah seorang putranya yang kuliah di Mumbai.
Membangun hotel di Lovina dengan nama Tasik Madu, nama historis yang kaya makna, mengingatkan krama Tajun akan dua Pura bagian dari “jejer kemiri” Pura Jero, Pura yang berada ring Utama Mandala Pura Bale Agung Tajun: Pusar Tasik dan Blabar Madu, yang bermakna: mereka yang tercerahkan akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Dalam bahasa Svami Vivekananda, “Enlighment in to True Happieness”. Di benak tetua Tajun dan kami keturunannya, sang raja cum sastrawan ini adalah insan manusia religius nyaris tanpa cela.

Baca Juga :  Pemerintah Kebut Realisasi Reforma Agraria

Jro Gde Sudibya, bermukim di Desa Tajun, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, pengamat kebudayaan Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here