6 Juni 1901 hari lahirnya Soekarno, lahir di Gang Peneleh, Surabaya, 124 tahun lalu. Wafat, 21 Juni 1970 di Jakarta dalam usia 69 tahun.
Soekarno orang besar -great man-, melampaui zamannya -beyond the ages-. Disegani kawan dan lawan, dengan motif berbeda. Disanjung sering dengan cara berlebihan oleh para pengikutnya, yang mengkaim diri anak ideologis Soekarno dengan latar belakang motif yang beraneka ragam. Dari “nasionalist die hard” sampai sebatas komoditas politik untuk tujuan kekuasaan.
Pasca 55 tahun wafatnya, dalam berbagai isu krisis global, sebut saja: risiko Perang nuklir, ketegangan AS – China, Perang Ukraina – Rusia, sering orang merujuk pemikiran visioner Soekarno tentang: Gerakan Non Blok – Non Align Movement-, Kesepakatan Dasa Sila Bandung tahun 1955, pemikiran visioner – universal dalam Tri Cakti Soekarno: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, Berkepribadian dalam Bidang Kebudayaan.
Pemikiran yang sampai hari ini relevan, tidak saja dalam perspektif “nation state”, tetapi juga dalam hubungan antar bangsa yang bercirikan multi polar.
Mengenang 124 tahun Soekarno, bisa disimak beberapa pemikiran Soekarno, dalam “Sekapur Sirih”, menyebut beberapa di antaranya:
Pertama, perjuangan adalah pengabdian total buat negeri, tulisan Soekarno Muda dalam Suluh Indonesia. Soekarno mengakui, pengabdian total buat negeri, dipengaruhi oleh pemikiran intelektual ternama India Cri Aurobindo, dalam tafsir Bhagavad Githa oleh intelektual ternama ini.
Kedua, empatinya sangat tinggi kepada masyarakat bawah, yang kemudian hari disebutnya “wong cilik”, dalam tulisan di Suluh Indonesia tahun 1926 dalam bahasa Belanda yang apik, tentang derita yang dialami oleh petani tebu, akibat perlakuan tidak adil dari pemerintah Hindia Belanda. Empati ke ” wong cilik” yang terus bertumbuh, dengan bertemu SI Marhaen di sebelah Utara Bandung, dan kemudian mengembangkan Marhaenisme, paham ekonomi kerakyatan untuk membela “wong cilik” yang punya alat produksi yang terbatas. Dalam pandangan Soekarno, pembelaan terhadap SI Marhaen, dalam bahasa ke kinian, dapat mengoreksi ketidakadilan struktural, yang menjadi pangkal penyebab kemiskinan struktural.
Ketiga, kecintaan dan komitmennya terhadap kebudayaan nasional, yang disampaikan secara lantang dan terang benderang, dalam Pidato 1 Juni 1945 yang melegenda itu. Penganutan suatu agama bagi setiap warga harus menghormati kebudayaan, bukan bersifat destruktif terhadap kebudayaan sebagai identitas berbangsa dan bernegara.
Keempat, dalam pemikiran Soekarno, perbedaan, keragaman, semestinya dihormati, dibanggakan dan dirayakan dalam “Taman Sari” Indonesia. Dalam bahasa puitik Soekarno, taman akan begitu indah jika dipenuhi bunga warna-warni, akan menjadi kusam kalau hanya dipenuhi satu warna bunga.
Kelima, sebagaimana diakui Soekarno, dia adalah pengikut teosofi Jawa, plus rasa ingin tahu luar biasa terhadap horizon pengetahuan yang maha luas. Kombinasi dan “melting pot” pengetahuan ini, melahirkan pengetahuan yang amat luas cum visioner, gabungan, resultante dari dalam bahasa ke kinian: kecerdasan: intelektual, spiritual dan emosional.
Jro Gde Sudibya, pembelajar pemikiran Soekarno, pengamat kecenderungan masa depan.

