Ingat Singaraja, Ingat Gubernur Sunda Kecil putra Aceh Tengku Dauh Sjah

Avatar
Ilustrasi : Pasar Banyuasri yang megah segera diresmikan
Oleh: I Gde Sudibya
Kota Singaraja, the authentic name Singa ” Umbara ” Raja,  diksi kata yang bermakna sangat kaya dari perspektif historis dan juga rokhani dari Ibu Kota Kabupaten Buleleng ( dahulu Den Bukit ), diberitakan memiliki ikon baru: pasar Banyuasri yang megah, dekat dengan pantai Lingga dan juga Segara Penimbangan yang sangat dikenal luas oleh warganya.
Pasar Banyuasri yang baru dan juga megah, diharapkan menjadi ikon baru kegiatan ekonomi warga kota pada khususnya, dan pusat bisnis yang menjadi urat nadi dan mampu berperan untuk mengungkit ekonomi kabupaten Buleleng pada umumnya.
Jika dilakukan sedikit  kilas balik terhadap kota ini, pasca kemerdekaan, dipilih menjadi ibu kota provinsi  Sunda Kecil yang melingkupi pulau-pulau yang sekarang menjadi tiga provinsi: Bali, NTB dan NTT.
Sejarah mencatat, salah satu gubernur Sunda Kecil di masa awalnya adalah seorang nasionalis putra Aceh: Tengku Dauh Sjah, yang bercerita kepada salah seorang cucunya, cerita yang dianggap oleh cucunya sebagai sebuah testemoni keluarga: Singaraja adalah kota yang memberikan kesan sangat mendalam bagi gubernur ini dalam konteks pelaksanaan tugasnya, karena sangat nyaman ditempati, dan orang-orangnya memberikan kesan mendalam bagi Tengku Daud Sjah: cerdas, kritis terbuka, dan dinilai punya integritas tinggi. Dan mewanti-wanti cucunya untuk datang ke kota ini, dan belajar prilaku dari orang-orang Singaraja yang beliau sangat kagumi.
Testimoni dari tokoh nasionalis suku Aceh ini, sangat pantas menjadi bahan refleksi bagi warga kota Singaraja pada khususnya dan masyarakat Buleleng pada umumnya.
Tantangan Ekonomi Buleleng di Masa Pandemi
Jika dilakukan kilas balik terhadap ekonomi Bali pada umumnya dan ekonomi Buleleng pada khususnya, sebut saja dalam empat dasa warsa terakhir, boom industri pariwisata kurang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Buleleng. Seperti yang dialami oleh Karangasem, Klungkung, Bangli dan juga Negara.
Dalam konteks Buleleng, dalam bahasa sederhananya, Buleleng tidak mampu melakukan kapitalisasi dari sumber daya dan potensinya, untuk merubahnya menjadi aktivitas ekonomi riil yang memberikan manfaat ekonomi maksimal buat warganya. Yang terjadi, migrasi penduduk dari kabupaten Buleleng ke wilayah-wilayah  yang lukratif bagi pengembangan industri pariwisata dan diikuti dengan internal brain drain, orang-orang pintar dan  trampil meninggalkan Den Bukit.
Tantangan ekonomi Buleleng di masa pandemi, menyebut beberapa diantaranya:
1.Sama yang dialami kabupaten-kabupaten lainnya, kedatangan wisatawan turun tajam, berada di titik nadirnya, yang berdampak besar terhadap: tekanan pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan risiko kebangkrutan usaha.
2.Sejak tahun 1950’an, Kabupaten ini dengan luas kurang lebih 30 persen  dari luas pulau Bali, dengan garis pantai terpanjang, merupakan hinter land, wilayah belakang produsen utama komoditas pertanian, termasuk komoditas ekspor bagi perekonomian Bali.
Tetapi di masa pandemi ini, komoditas ini mengalami tekanan harga luar biasa, menyebut beberapa diantaranya: harga Cengkeh turun sekitar 50 persen dibandingkan harga beberapa tahun lalu, Vanili turun sekitar 70 persen, buah-buahan harganya tidak stabil sangat tergantung harga yang ditentukan para tengkulak.
3. Sektor perdagangan dan jasa lainnya mengalami tekanan, akibat tekanan pada indutri pariwisata yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali, yang kemudian berdampak pada perekonomian Buleleng.
Dalam kondisi ekonomi seperti ini Pasar Banyuasri akan diresmikan, diharapkan menjadi ikon baru kota Singaraja.
Tantangan yang harus dijawab oleh elite pengambil kebijakan dan juga warga kota, dan juga dengan menyimak testimomi dari Bapak Tengku Daud Sjah di atas, yang sebetulnya sangat inspiratif dan membuat warga kota Singaraja semestinya menjadi jengah.

Baca Juga :
Bacakan Pledoi, Gendo Mohon Bebaskan Teller Dari Segala Tuntutan Hukum
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, ekonom, konsultan ekonomi, pengamat ekonomi. Lulusan SMP Bhaktiyasa ( bersubsidi ) tahun 1967 Singaraja  dan SMA Satu Singaraja tahun 1970.

Leave a Comment

Your email address will not be published.