Indonesia, Kebhinekaan dan Ancaman Politik Identitas

Avatar

I Made Riandiana Kartika :  “Mencintai Kota Malang, Meksipun Tidak Terlahir di Kota Malang”

Balinetizen.com, Denpasar

Sudah lebih dari 30 Tahun, sosok seorang I Made Riandiana Kartika hidup di Kota Malang. Berjuang keras untuk bertahan hidup di Kota Malang, hingga akhirnya berkeluarga di Kota Malang, dan bisa menjadi Ketua DPRD Kota Malang.

Cintanya kepada Kota Malang banyak diwujudkan dengan cara selalu membantu warga Kota Malang yang membutuhkannya. Kaum pinggiran dan warga miskin Kota Malang, sudah sangat mengenal sosoknya. Meskipun tidak dilahirkan di Kota Malang, tetapi Beliau sudah memberikan segenap jiwa, raga, hati, pemikiran dan pengorbanan untuk membangun Kota Malang.

“Lingkaran setan kemiskinan di Kota Malang ini, hanya bisa diberantas dengan Jalan Pendidikan.” Itu adalah salah satu keyakinannya untuk membantu dan membangun seluruh warga miskin di Kota Malang, menjadi lebih berdaya dan sejahtera, melalui Jalan Pendidikan. Kesadaran dan kepeduliannya tersebut, terbukti telah mengantarkannya dipercaya oleh masyarakat Kota Malang menjadi Ketua DPRD Kota Malang, dengan TANPA POLITIK UANG.

Meskipun I Made Riandiana Kartika adalah satu-satunya orang yang berbeda agama di lingkungan RWnya, tetapi justru Beliau dipercaya oleh warga RWnya menjadi Ketua RW. Ini juga sekaligus memperkuat bukti bahwa Warga Kota Malang sangat menghormati beragam perbedaan. Sangat Berbhinneka Tunggal Ika. Tidak mudah dipecah belah hanya karena latar belakang perbedaan Suku, Agama, Ras dan Golongan.

Jadi, jika masih ada orang-orang yang memperselisihkan perbedaan SARA, asli Malang atau bukan asli Malang, dalam lingkungan hidup bermasyarakat di Kota Malang, maka sesungguhnya dia belum mengerti karakter dan jati diri warga Kota Malang yang sangat Bhinneka Tunggal Ika.

Sangat banyak pelajaran hidup, hikmah dan pencerahan yang bisa kita dapatkan dari sosok seorang I Made Riandiana Kartika. Caranya mencintai Kota Malang, kepeduliannya terhadap warga miskin Kota Malang, perjuangan hidupnya untuk membangun Kota Malang, meskipun Kota Malang bukanlah tanah kelahirannya. Prinsipnya, “Dimana bumi dipijak, disitu langit harus dijunjung.”

Baca Juga :
Hadapi Musim Libur Akhir Tahun, Gubernur Koster Minta Layanan Wisatawan Zero Complaint

Dan apa yang akan diperjuangkannya, jika kelak ternyata sosok seorang I Made Riandiana Kartika dipercaya oleh seluruh warga Kota Malang menjadi Walikota Malang ke depannya?

I Made Riandiana Kartika telah menjadi sebuah bukti otentik, dari ribuan bukti-bukti lainnya, yang memberikan gambaran jelas bahwa Kota Malang adalah miniatur terbaik dari semangat berbangsa dan bernegara, serta Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jadi, untuk bisa mencintai dan memberikan Dharma Bhakti kepada Kota Malang, bukanlah soal asli Malang atau bukan asli Malang. Tetapi sepenuhnya soal ketulusan hati, perjuangan yang sungguh-sungguh, pengorbanan yang ikhlas, dan perbuatan-perbuatan baik sepenuhnya kepada seluruh warga yang hidup di Kota Malang. Dari manapun asal dan tanah kelahirannya.

Kepiawain Riandiana Kartika bergaul dengan warga malam hingga mencapai posisi puncak menjabat Ketua DPRD Malang  ini mendapat apresiasi dari Pengamat Sosial dan Ekonomi kelahiran Desa Tajun, Buleleng I Gde Sudibya. Ia mengatakan, Minggu (7/2) bahwa ini satu contoh sosok I Made Riandiana Kartika, dari banyak sekali contoh  insan-insan manusia Indonesia yang sangat mencintai dirinya di luar ukuran SARA.

“Ini juga bukti dari banyak bukti pluralisme ,  keragaman latar belakang SARA, bukanlah penghalang, tetapi menjadi bukti dari kekuatan anak-anak bsngsa di Bumi Pertiwi Indonesia. Perbedaan bukanlah untuk ditonjolkan, apalagi dipertentangkan, tetapi sebagai wahana untuk proses belajar bersama  melalui akulturasi budaya, membuat kita sebagai bangsa menjadi kuat,   justru di tengah perbedaan yang terkelola secara bijaksana, disyukuri dan bahkan menjadi kebanggaan,” kata Gde Sudibya.

Pembumian, down to earth, sesanti: Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa. Kebinekaan itu pada akhirnya menyatu, tunggal, dalam Kebenaran yang Satu karya susastra Sutosuma dari Mpu Tanakung di era kejayaan Majapahit. Sutosoma: simbolik insan manusia yang mampu mengalahkan musuh dalam dirinya, menjadi pemenang kehidupan, melalui prilaku total welas asih, kasih sayang, tidak saja ke insan-insan manusia lainnya,  tetapi termasuk kasih sayang ke seluruh isi Alam Semesta.

Baca Juga :
1.007 wisudawan UI lulus cumlaude

Mengenai keragaman dalam berbangsa, Soekarno menulis: Indonesia adalah taman sari keindahan, warna-warni bunga yang indah. Tidak ada keindahan dalam taman sari yang dimaksud, kalau bunganya tunggal. Merah saja, putih saja, dan atau biru saja.

Tamsil akan ke Indonesia an, yang pada hakekat dasarnya: keragaman. Tetapi dalam realitasnya, keragaman yang dimaksud yang merupakan raison detre’ alasan keberadaan negeri ini, di bumi Pancasila, akhir-akhir ini banyak mengalami cobaan: SARA dijadikan alat politik kekuasaan, politik menghalalkan semua cara, politik Machiavelli, dengan memutar-balikkan simbol-simbol agama untuk memenuhi libido kekuasaan.

Anak-anak negeri ini harus mewaspadainya, dan mengambil langkah-langkah nyata koreksi, untuk tidak melahirkan mimpi buruk yang dialami banyak negara:  Yogoslavia, Suriah, Irak, Libya, Afganistan, Yaman dan juga Lebanon. Di samping negara-negara di kawasan benua Afrika.

By the way, menyebut kota Malang, Malang Raya: Kodya Malang, Kabupaten Malang, Kota admistratif Batu, dapat mengingatkan kita akan kebesaran kerajaan Singhasari, dengan salah satu rajanya yang terkenal Kertha Negara.

Menurut catatan sejarah, konon raja ini yang pertama menuangkan konsepsi Nusantara. Dilanjutkan oleh putrinya: Gayatri Rajapatni, permaisuri Sangrama Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit.

Sejarah mencatat, keturunan pasangan inilah melahirkan generasi kepemimpinan: Tri Bhuwana Tungga Dewi kemudian Hayam Wuruk, dibantu patih ternama: Rakrayan Ki Patih Gajah Mada, dengan Sumpah Palapanya. Sejumlah penilis menafsirkan: ada hubungan “benang merah” antara konsepsi Nusantara – Raja Kertha Negara – dengan Sumpah Palapa – Patih Gajah Mada – di era kepeminpinan Hayam Wuruk.

Di kawasan Malang Raya hari ini, terhampar banyak peninggalan, Candi,  dari kerajaan Singhasari, menyebut salah satunya candi resik nan asri di kawasan sejuk Songgoriti  kawasan perbukitan di atas kota Malang.

Baca Juga :
Polisi Pastikan Tidak Ada Al Quran Dibakar

Editor : Whraspati Radha

Leave a Comment

Your email address will not be published.