Foto: Emiliana Sri Wahjuni, Anggota DPRD Kota Denpasar dari PSI (kiri) bersama Sekjen PSI Dea Tunggaesti (kanan) saat di sela-sela acara Bimtek Nasional bagi Anggota Legislatif PSI se-Indonesia di Jakarta belum lama ini.
Balinetizen.com, Denpasar
Tahun 2021 masih menjadi tahun yang berat bagi segenap anak bangsa Indonesia di tengah ancaman pandemi Covid-19 yang masih belum usai. Para wakil rakyat di lembaga legislatif juga menghadapi tantangan yang tidak mudah, namun kerja-kerja pengabdian untuk rakyat tidak boleh berhenti.
Pelayanan kepada rakyat memperjuangkan aspirasi rakyat tetap menjadi harga mati untuk membayar lunas janji mengabdi untuk negeri. Keyakinan itulah yang tetap dipegang teguh anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Emiliana Sri Wahjuni.
Anggota DPRD Kota Denpasar dari PSI ini juga mengaku akan terus berjuang di rel Trilogi PSI yakni “Menebar Kebajikan, Merawat Keragaman, Mengukuhkan Solidaritas” sebagaimana juga yang menjadi penegasan pesan Ketua Umum PSI Giring Ganesha kepada seluruh kader PSI saat memberikan arahan dalam acara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Nasional yang digelar DPP PSI untuk seluruh anggota DPRD-nya di Jakarta pada 14–17 Desember 2021. Ini adalah wujud upaya DPP PSI untuk mendukung kerja para anggota legislatifnya.
“Kita diminta tetap semangat, tetap bekerja, tetap berbuat baik. Agar menjadi contoh untuk generasi calon pemimpin masa depan. Kita PSI tetap hadir kerja untuk rakyat,” kata Emiliana Sri Wahjuni yang juga turut hadir dalam Bimtek Nasional Anggota Legislatif PSI se-Indonesia ini.

Sis Emil mengaku sangat berkesan dengan pesan-pesan dari Ketum PSI Giring Ganesha, Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie, Sekretaris Dewan Pembina PSI Raja Juli Antoni serta sejumlah pembicara seperti pegiat media sosial dan pengamat politik Denny Siregar.
“Kata Denny Siregar kalau zaman dulu kita ingin mencetak sejarah kita harus ada di buku. Tapi kalau zaman sekarang pesannya namamu jangan sampai tidak bisa di-search di Google. Kalau tidak bisa di-search di Google artinya loe gak pernah ada, kamu tidak pernah menciptakan sejarah dalam hidup kamu,” ujar Sis Emil menirukan pernyataan Denny Siregar.
Apa yang disampaikan Denny Siregar benar adanya. Bahwa kiprah seseorang bisa diketahui, dikenal dan dikenang melalui jejak digitalnya di mesin pencari google dan di media sosial.
Kaitan dengan hal itu, nama Emiliana Sri Wahjuni yang akrab juga disapa Sis Emil ketika diketikkan di mesin pencarian Google maka akan muncul seabrek informasi tentang kegiatan positif dan kreatif serta informasi dan berita seputar perjuangan dan program wakil rakyat dari PSI ini.
“Saya jadi ketawa sendiri dengan apa yang disampaikan Denny Siregar dan Astungkara nama saya gampang di-search di Google,” ujar Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar yang membidangi kesehatan, pendidikan, pemuda dan olahraga, pemberdayaan perempuan, sosial dan tenaga kerja, kebersihan dan pertamanan, pariwisata dan lain-lain ini.

Selama ini Emiliana Sri Wahjuni memang dikenal sebagai wakil rakyat yang tidak pernah sepi aktivitas serta program positif, kreatif, membangun dan memberdayakan warga mulai dari anak-anak muda, ibu-ibu, para perempuan tangguh, lansia, pelaku UMKM, seniman, hingga organisasi kepemudaan dan lainnya.
Rumah Kreatif Emiliana Sri Wahjuni di jalan Kerta Dalem Mansion, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan didedikasikan penuh sebagai rumah perjuangan, sebagai rumahnya rakyat untuk berkeluh kesah, menyampaikan aspirasi dan tentunya rumah bersama mewadahi kreativitas warga hingga menggelar berbagai pelatihan produktif seperti pemasaran online untuk UMKM, memasak dan lainnya.
Wakil rakyat yang dikenal ramah dan penuh kepedulian ini juga terus konsisten dan gencar menjalankan program DPP PSI yakni membagikan Rice Box PSI (makanan) kepada warga secara door to door untuk membantu meringankan beban warga menghadapi pandemi Covid-19 dan untuk tetap memberikan suntikan semangat untuk kemenangan harapan bersama-sama berjuang keluar dan terbebas dari pandemi Covid-19.
Baginya wakil rakyat tidak boleh hanya hadir lima tahun sekali saat kampanye dan Pemilu, melainkan harus tiap hari hadir di tengah-tengah warga. “Apa yang kita lakukan harus on the right track, di jalan yang benar,” pungkas Emiliana Sri Wahjuni. (dan)

