Balinetizen.com, Denpasar
Sesungguhnya tiada tempat untuk kelompok-kelompok yang tidak mengusung toleransi dan moderasi keberagaman. Oleh sebab itu momentum perhelatan Halal Bihalal & Milangkala HUT Ke-12 Badan Musyawarah Urang Sunda (BAMUS) Provinsi Bali kali ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergitas kami sebagai kaum pendatang dengan masyarakat Bali dengan menyatukan visi dan Misi bersama untuk agenda pemulihan ekonomi pasca pandemi.
Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Umum BAMUS Bali, Agus Samijaya, SH., MH. pada perhelatan Halal Bihalal & Mulangkat HUT Ke-12 BAMUS Bali, yang dilaksanakan pada Minggu, 12 Juni di GOR Praja Raksaka, Pamogan Denpasar Selatan.
“Komitmen kami masyarakat asal Jawa Barat, diantaranya yang dari kota Bandung, Cirebon, Sukabumi dan Bogor dsb yang telah menetap dan mencari nafkah di Bali tentunya harus tetap menjaga nama baik Bali dengan selalu menjalin sinergisitas rasa persaudaraan serta menjaga kedamaian,” tambahnya.
Seperti kata pepatah, ‘Dimana Langit dijunjung Disitulah Berpijak’ artinya Jadikanlah Bali menjadi ‘Rumah Kedua’ selain daerah asal.
Menurutnya, Pada hakekatnya erat kaitannya falsafah yang diterapkan masyarakat Bali dengan ‘Tri Hita Karana’ nya dengan falsafah hidup orang Sunda ‘Tri Tangtu’ yaitu Sagilik-Saguluk Salunglung Sabayantaka, Paras-Paros Sarpanaya, Saling Asah, Asih, Asuh yang artinya bersatu-padu, saling menghargai pendapat orang lain, dan saling mengingatkan, saling menyayangi, saling tolong-menolong.
Gubernur Bali I Wayan Koster kehadirannya diwakili oleh Dr. I Wayan Serinah staff ahli bidang pembangunan SDM Dan Kebudayaan dan pejabat lain yang hadir diantaranya Anggota BK DPRD Kota Denpasar, Nyoman Darsa, Perwakilan Kesbangpol Provinsi, Kepala Pengadilan Militer (Kadilmil) III-14 Denpasar Letkol Sus Dahlan Suherlan, SH, MH, Ketua POKDAR Kamtibmas Bali, Yusdi Diaz, Kajati Bali, Perwakilan Polda Bali dan Pembina BAMUS Yang juga rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan.
Ketua Panitia Halal BI Halal BAMUS, Asep Ruchendy Wiradireja, ST.Ts. menyampaikan bahwa sejatinya berbagai elemen komunitas Urang Sunda berkomitmen untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak di Bali dan semua elemen bangsa untuk senantiasa bahu membahu untuk ikut serta menjaga perdamaian dan kedamaian serta menghalau segala bentuk intoleransi.
Seperti diketahui saat ini jumlah populasi Urang Sunda yang ada di Bali tercatat sekitar 40 ribu jiwa, diperkirakan masih banyak yang belum (tidak) terdaftar. (hd)

