Rapuhnya Karakter Manusia Bali, dan Memudarnya Peradaban

0
303

 

Balinetizen.com, Denpasar-

Meminjam istilah Soekarno, elan vitalitas manusia Bali dalam mempertahankan peradaban dan kebudayaannya nyaris punah, karena kemalasan, kebodohan dan kerapuhan karakter.

Hal itu dikatakan Forum Penyadaran Dharma Jro Gde Sudibya, Jumat 23 Juni 2023 menyikapi perkembangan pembangunan kehidupan bermasyarakat dan berbegara di pulau Dewata ini.

Senada juga dikatakan sejumlah netizen di media sosial di mana fragmatisme saat ini merasuki manusia manusia Bali. Cepat atau lambat orang Bali sendiri akan mengancurkan keberadaban orang Bali.

Dikatakannya, perubahan pola pikir masyarakat seperti suryak siu, berpikiran sempit, mudah digiring ke hal hal negatif tidak lepas dari figur tokoh dan pemimpinnya. Jika pemimpin dan tokoh-tokohnya berintegritas pasti rakyatnya akan berintegritas.

Jro Gde Sudibya mengatakan, kerja serius, belajar berkelanjutan, dan kerja sebuah proses termasuk di dalamnya yasa kerthi, untuk melahirkan karya-karya METAKSU mulai memudar dan menghilang di sana-sini.

“Sikap JENGAH, berani bersaing, dalam ucapan ” anak len bisa, iraga pasti bisa”, mulai memudar, menyalahkan orang lain, dan menyalahkan keadaan. Merasa menjadi korban keadaan (victimism),” kata Gde Sudibya mengingatkan para pemimpin di Bali.

Dikatakan, saat sekarang harga diri tinggi (self pride) karena mampu dan terbukti berprestasi, berganti wujud dengan sisa-sisa feodalisme, pasca kejatuhan Kerajaan Gelgel, sikap: parekan, rendah diri, “milu-milu tuung”, “suryak siu”, nyongkokin tain kebo, bertumbuh, sejalan dengan sikap kemunafikan hidup.

Padahal, lanjut Jro Gde Sudibya, sistem nilai kehidupan sebelum kejatuhan Gelgel, Bali Pertengahan, Bali Mula, sarat dengan nilai kehidupan dalam bahasa sekarang sikap mental pemenang (the winner).

“Dengan cirinya, suntuk dengan swadharma kehidupan, jujur, bersahaja dan respek pada alam. Sistem nilai yang tetap tampak di desa-desa Bali pegunungan, ethos kerja ini mereka bawa melanglang buana, sejalan dengan tantangan perubahan.

Baca Juga :  Ketua DPRD Buleleng Terima Audensi Warga Desa Sepang Kelod Terkait Masalah Tapal Batas Dengan Desa Dapdap Putih

“Dalam masyarakat dengan tradisi paternalistik (orientasinya panutan), maka pemimpin dan elite penguasalah sebagai pihak-pihak yang paling bertanggung jawab dalam “kekisruhan” dan turunnya nilai nilai peradaban Bali dewasa ini,” kata Jro Gde Sudibya. (Adi Putra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here