Denpasar, (Metrobali.com) –
Sekitar 3000 warga Bali berkumpul di Lapangan Timur Bajra Shandi, Niti Mandala Renon, Denpasar, pada hari Sabtu, 14 Oktober 2023. Acara ini merupakan puncak dari Gema Perdamaian ke-21, dengan tema “Refleksi Budi Luhur Menuju Perdamaian”.
Kemeriahan dimulai dengan peserta dari berbagai lapisan masyarakat yang berdoa mengelilingi Monumen Bajra Sandi Renon.
Peserta ini terdiri dari para pemangku, mahasiswa, siswa/siswi SMA serta warga lintas agama. Mereka menyerukan doa agar Negara di dunia yang tengah berkonflik untuk mengehentikan peperangan.
Ketua Panitia Gema Perdamaian, Kadek Adnyana, menyampaikan bahwa acara ini telah menjadi tradisi sejak era pasca bom Bali tahun 2002.
“Bali telah secara rutin menyelenggarakan doa bersama lintas agama selama 21 tahun, namun peperangan masih melanda dunia saat ini,” katanya di Denpasar, Sabtu 14 Oktober 2023.
Mantan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, yang hadir di acara dan juga merupakan inisiator Gema Perdamaian, memimpin seruan agar peperangan di berbagai belahan dunia dihentikan.
Dia mencatat tragedi perang antara Rusia dan Ukraina serta konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina yang terus memanas.
“Kita harus berhati-hati dan membuka hati. Risiko peperangan di Indonesia bukanlah hal yang mustahil jika kita tidak waspada,” tegas Pastika.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menegaskan bahwa acara Gema Perdamaian sangat relevan di tengah situasi global yang penuh ketegangan.
“Gema Perdamaian adalah pengingat bagi kita semua akan pentingnya perdamaian. Perdamaian bukanlah anugerah dari langit, tetapi merupakan hasil usaha bersama semua pihak. Perdamaian adalah fondasi bagi kelangsungan peradaban manusia,” ujarnya.
Pastika mengapresiasi keberlanjutan Gema Perdamaian sejak dimulai pada tahun 2003 sebagai upaya pemulihan Bali setelah tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002.
“Saya mendukung penuh inisiatif ini dan berharap dapat menyentuh hati setiap individu. Damai itu indah, dan upaya untuk menciptakannya harus dimulai dari diri kita sendiri,” tambahnya.
Meskipun menciptakan perdamaian sulit, Pastika meyakinkan bahwa tanpa usaha, perdamaian akan tetap menjadi impian.
Dalam konteks konflik global, seperti perang antara Israel dan Palestina, Gema Perdamaian memiliki peran penting sebagai penerang di tengah kegelapan.
“Mari terus menggulirkan semangat ini. Kita mungkin tidak bisa menjadi matahari, tetapi setidaknya kita bisa menjadi pelita dalam kegelapan. Mari tetap optimis, meskipun peran kita kecil, semoga ada manfaat yang dapat kita bawa,” pungkas mantan Kapolda Bali ini.
Dalam acara tersebut, tiga tokoh nasional, yakni Presiden Joko Widodo, politikus Yenny Wahid, dan mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, diberikan penghargaan oleh Komunitas Gema Perdamaian sebagai tokoh perdamaian, sebagai pengakuan atas dedikasi mereka dalam mewujudkan perdamaian. (Tri Prasetiyo)

