Balinetizen.com, Denpasar
Dalam perayaan raina Saraswati, Sabtu, 16 Desember 2023, kita bisa menyimak ceramah Svami Vivekananda pasca menghadiri Konferensi Agama-Agama se Dunia di Chicago AS 130 tahun yang lalu. Svamiji dalam salah satu ceramahnya mengatakan, manusia punya potensi mengalami dua jenis kebutaan: buta secara intelektual (intelectual illiterate), dan buta secara rokhani (spiritual illiterate).
Buta secara spiritual dalam pandangan Svamiji, diderita insan – insan manusia yang tertitup: pikiran, hati dan batinnya, sehingga sinar Tuhan dalam diri ATMAN, tertutup kabut tebal keakuan diri, AHAMKARA, yang bisa melahirkan prilaku (dalam konteks ke kinian): kesombongan, keangkuhan, klaim pemegang tunggal kebenaran, sok berkuasa “adigung adi kuasa”, jauh dari sikap rendah hati, empati ke sesama dan sikap “ojo dumeh” jangan mentang-mentang. Dalam lanskap politik, disaksikan komunikasi model para buzzer: menjungkirbalikkan fakta, hoax, komunikasi bermuatan fitnah, gambaran dari komunikasi tidak beradab yang identik dengan komunilasi biadab.
Dengan model dan muatan komunikasi ini, seakan-akan membenarkan diktum: “homo homini lupus”, manusia menjadi srigala ke sesamanya. Keutamaan manusia menjadi sirna, tidak dalam ucapan, tetapi dalam laku. Dalam ucapan, di dunia wacana bisa kayaknya setengah Dewa dan bahkan Tuhan itu sendiri. Kemunafikan yang nyaris sempurna. Dalam proses politik terjadi proses pembodohan, ketololan dalam prilaku politik, pada mayoritas masyarakat pemilih yang secara rata-rata hanya setingkat kelas 7 (tidak tamat SD). Yang dijadikan sasaran empuk pembodohan, lengkap dengan “gula – gula” BLT dsn sejenisnya sebagai proyek belas kasihan,dan sekaligus untuk meraup suara. Dana “gula-gula”yang dipompakan ke publik , seakan-akan warisan nenek moyangnya 7 turunan. Warisan cara berpikir feodalisme purba.
Dalam realitas sosial seperti ini, Kita melakukan puja bhakti raina Saraswati.
Rahajeng nyanggra raina Saraswati.
Jro Gde Sudibya, pengamat sosial, penulis buku Agama Hindu dan Budaya Bali.

