Balinetizen.com, Badung
Sejarah panjang hubungan diplomatik Indonesia-Mesir, yang dimulai sejak Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, kembali diperkuat dengan kolaborasi strategis dalam sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta pusat data. Kerja sama ini dibahas dalam forum HLF MS dan IAF ke-2 yang berlangsung di Nusa Dua, Badung, Bali.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menekankan pentingnya hubungan historis kedua negara yang telah terjalin sejak lama.
“Secara historis, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Hubungan ini telah berlangsung lama, dan kolaborasi dalam pengembangan sektor digital antara kedua negara sangat penting. Kerja sama ini akan memberikan manfaat besar bagi kedua belah pihak,” ujar Menkominfo di sela-sela forum tersebut, Senin 2 September 2024.
Meski demikian, Menkominfo belum bisa mengungkapkan detail terkait angka investasi maupun proyek-proyek yang akan digarap dalam kerja sama ini.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Republik Arab Mesir, Dr. Amr Ahmed Samih Talaat (H.E.), menyambut baik kemitraan ini, mengingat hubungan strategis dan historis yang telah lama terjalin antara kedua negara.
“Indonesia dan Mesir memiliki hubungan strategis dan historis yang sangat penting. Kami bangga menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Selama ini, banyak warga negara Indonesia yang menempuh pendidikan di Al Azhar, dan kami senang melihat hubungan ini terus berkembang. Hari ini, kami sepakat untuk memperluas kerja sama di bidang TIK,” ungkapnya.
Dr. Amr Talaat juga menambahkan bahwa Mesir telah memulai perjalanan ambisius menuju digitalisasi dan penciptaan masyarakat digital. Semua pencapaian Mesir di sektor TIK siap untuk dibagikan kepada Indonesia, termasuk program pelatihan yang melibatkan sekitar 500 ribu mahasiswa setiap tahun.
Ia juga mengundang pemuda Indonesia untuk berpartisipasi dalam program-program tersebut bersama saudara-saudari mereka di Mesir.
Selain itu, dalam bidang infrastruktur, kedua negara telah membentuk konsorsium untuk pengembangan kabel bawah laut guna menyediakan layanan konektivitas bagi Indonesia yang melewati perairan Mesir.
Kerja sama ini akan diperluas dengan rencana penyelenggaraan lebih banyak kabel bawah laut untuk meningkatkan konektivitas dan ketahanan bagi masyarakat Indonesia.
“Yang terhormat Presiden Abdel Fattah el-Sisi juga menyampaikan penghargaan kepada pemerintah Indonesia atas undangan dan keramahtamahan yang diberikan. Beliau menekankan pentingnya hubungan strategis dan ikatan historis antara kedua negara yang terus diperkuat dan diperluas oleh kedua pemerintah,” tambah Dr. Amr Talaat.
Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menyerukan solidaritas global untuk mengambil tindakan yang lebih nyata dan konkret dalam mengatasi pelambatan ekonomi, tingkat pengangguran, inflasi, dan ketegangan geopolitik yang telah mengganggu rantai pasok global.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Negara saat membuka High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF-MSP) dan Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2, di Nusa Dua Bali, Senin (2/9/2024).
Presiden mengatakan bahwa untuk mencapai pembangunan yang lebih adil dan inklusif bagi negara-negara berkembang, butuh strategi baru dan langkah taktis yang fokus pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
(Jurnalis: Tri Widiyanti)

