Bali Diterpa Krisis Multi Dimensi, Kalangan Terpelajar Nyaris Bungkam, Dimana Peran Para Alumni Fakultas Sastra Unud

0
222
Ilustrasi. (ist)

 

Balinetizen.com, Denpasar-

Perlu analisis berseri, tentang fenomena ekonomi Bali, dimana pemprov membiarkan Kanibalisme dalam praktek bisnis, dimana hotel memakan lahan sawah ( pariwisata hancurkan agrobis).

Hal itu dikatakan I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan Kebudayaan Bali, Kamis 12 September 2014.

Hal yang sama dikatakan Prof. Ngurah Santiarsa. Pemerintah daerah sangat lemah. Toko berjaringan dibiarkan dan menghancurkan pasar tradisional, Bali akan dijadikan kawasan bebas pajak buat globalis, praktek rente atau calo ijin makin marak, bansos transaksional dengan kuasa, praktek kolaborasi partai politik dengan premanisme.

Menurut I Gde Sudibya, “Kita sudah ingatkan cukup lama terhadap risiko ini, akibat kapitalisme pariwisata yang kebablasan dan risikonya. Sekarang risiko ini tampak nyata “dasa muka” krisis yang berlangsung.

Di mana kalangan intelektual menyebut beberapa: Prof.Ngurah Bagus, Prof.A Munuaba, Nyoman Glebet menyuarakan dengan sangat lantang.

Di mana pergulatan pemikiran kalangan intelektual Bali, telah termuat dalam buku terbitan Bali Post: Baliku Sayang, Baliku Malang, Potret Otokritik, Potret Otokritik Pembangunan Bali Dasa Warsa 1990’an.

Dikatakan, sekarang krisis multi dimensi yang dihadapi Bali semakin membesar, tetapi para cerdik pandainya nyaris diam seribu bahasa, seakan-akan Bali sedang baik-baik saja.

“Bagi mereka yang masih berpikir waras, punya ketajaman rasa, dan kepekaan rohani, Bali sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Prof. Ngurah Bagus dalam berbagai kesempatan secara eksplisit dan implisit menyampaikan, Bali ke depan akan dihadapkan kepada tantangan berat, yang sekarang telah menjadi kenyataan.

Dikatakan, sebagai intelektual cerdas dan visioner, meminjam istilah beliau, tidak mau “ngomong di karang suwung”, mengambil langkah.

Menurutnya, rintisan “cultural studies” yang dilakukan antropolog ternama yang mencintai Bali ini, diharapkan mampu melahirkan intelektual tercerahkan untuk mengantisipasi krisis di atas.

Baca Juga :  Brexit Tanpa Persetujuan Bisa Akibatkan Inggris Kekurangan Obat

Dalam berbagai kesempatan, dengan nada berseloroh “berani jual tanah” untuk menambah perpustakaan beliau bagi anak-anak didiknya.

Tetapi sayangnya, anak-anak didiknya yang dilahirkan oleh program “cultural studies”, nyaris tidak melahirkan pemikiran tercerahkan, sebagai panduan masyarakat dalam mengelola perubahan yang destruktif ini.

“Pemikiran ini (maaf) terlalu kecil dibandingkan dengan kedalaman dan kekuasaan wawasan dari Prof.Bagus. Mengambil analogi (yang tidak seluruhnya pas), Prof.Widjojo Nitisastro sangat dihormati di FEUI, nyaris secara berseloroh nyaris diidentikkan dengan setengah “dewa”, pemikiran dan idealisme diikuti dengan tekun dan bangga,”.

Apakah kondisi yang sama tidak dialami oleh Prof.Ngurah Bagus di Fakultas Ilmu Budaya Unud?

“Jangan-jangan kita dihadapkan pada persoalan peradaban yang serius, generasi datang belakangan, menafikan jejak generasi terdahulu. Kalau ini sampai terjadi, meminjam tamsil dalam filsafat sejarah: generasi yang tidak belajar sejarah, layaknya srigala yang masuk lubang yang sama berkali-kali. Miris dan kemudian menjadi tragedi. (Sutiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here