27 Tahun Gerakan Reformasi, Gagal atau Berhasil?

0
207

 

Balinetizen.com, Denpasar

27 tahun yang lalu, 21 Mei 1998, Pak Harto menyatakan berhenti sebagai Presiden, di ruang Jepara di hadapan para hakim agung, Istana Negara, Jakarta. Dalam sejarah, peristiwa ini merupakan puncak kemenangan Gerakan Reformasi.

Setelah berjalan 27 tahun, apakah cita-cita reformasi berhasil atau gagal, mari kita simak realitas berikut.

Menurut ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan Jro Gde Sudibya, sejumlah lembaga riset internasional, dalam beberapa tahun terakhir ini, indeks demokrasi menurun, artinya kualitas demokrasi mengalami kemerosotan. Indeks persepsi korupsi menaik, artinya dugaan korupsi meningkat.

Dikatakan, besaran kerugian akibat korupsi dalam skala ratusan triliun rupiah, dalam kasus korupsi di PT.Aneka Tambang dan PT.Pertamina Patra Niaga. Kerugian akibat korupsi yang tidak pernah terjadi semenjak Indonesia Merdeka.

“Kasus pagar laut sepanjang 30 km.di Teluk Jakarta dan Provinsi Banten, yang menurut pemberitaan media kasusnya “terang – benderang”, tetapi sampai hari ini kasusnya seakan-akan “tenggelam” di kedalaman laut Teluk Jakarta,” kata Jro Gde Sudibya.

Ditambahkan, desentralisasi dan Otonomi Daerah, disepakati, dicanangkan dan diimplementasikan, kemudian dicabut kembali, dalam kebijakan resentralisasi, yang dipelopori dalam UU Cipta Kerja tahun 2020, dengan alasan untuk memudahkan investasi terutama investasi luar negeri. Dimana, realitasnya investasi luar negeri tidak masuk, bahkan investasi yang ada “hengkang” ke luar negeri.

Menurutnya, demokratisasi untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, tetapi menurut data BPS tahun 2019 – 2024, 10 juta kelas menengah turun kelas, menjadi kelompok masyarakat rentan miskin. Sekitar 60 persen angkatan kerja bekerja di sektor informal, dengan produktivitas rendah, pendapatan rendah dan tanpa jaminan sosial.

Menurut jurnalisme data Kompas, 31 persen penduduk di bawah usia 5 tahun terkena stunting, 168 juta penduduk tidak punya kecukupan gizi “4 sehat, 5 sempurna”.

Baca Juga :  Jokowi berencana ke Kalteng tinjau karhutla

“Cita-Cita reformasi, bak kata pepatah “Jauh Panggang dari Api”,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here