Sudamala, Kemampuan Purifikasi bagi Pengampu Kebudayaan Bali, Mengalami Kemerosotan dan Bahkan Krisis

0
270

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Sudamala, Kemampuan Purifikasi bagi Pengampu Kebudayaan Bali, Mengalami Kemerosotan dan Bahkan Krisis. Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan, Sabtu 24 Mei 2025, di Denpasar.

Menurut Jro Gde Sudibya, pengertian dan makna otentik dari Sudamala dalam Kebudayaan Bali, kekuatan dalam (internal power) dari kebudayaan dalam merawat dan menjaga nilai otentik kebudayaan, yang bercirikan: spiritualitas, kesucian, kebeningan hati, kecerdasan pikiran, yang kemudian “bermuara” pada kreativitas kehidupan pada keseluruhan dimensinya.

Dikatakan, sudamala dalam Kebudayaan Bali mempersyaratkan: kemampuan membangun relasi dengan alam, baca bauran substansi dari spirit yang terkandung dalam: Pertiwi, Apah, Bayu, Teja, Aksara, yang memberi energi dan menafasi manusia Bali dalam berkebudayaan.

Ditambahkan, merujuk pemikiran sosiolog ternama dunia dari AS Robert N Bellah yang sering dirujuk oleh intelektual ternama negeri ini Cak Nur (Nurcholis Madjid), yang mengatakan, siar agama dalam kualitasnya yang tertinggi, teks-teks teologi agama ditransformasi dalam karya seni dan karya budaya dalam bahasa universal, yang dapat dipahami oleh insan-insan manusia yang lintas iman.

“Dalam konteks berpikir teologi dan sosiologi agama ini, sebetulnya Sudamala Kebudayaan Bali lebih dipahami dan kemudian bermakna,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, sudamala dalam Kebudayaan Bali, jika kita merujuk ke pemikiran Sardona selaku pekerja dan peneliti seni, yang intens berelasi dengan para seniman tari Bali, mereka yang suntuk dalam kehidupan total, di mana kegiatan berkesenian menjadi bagian dari padanya.

Sardono memberikan contoh, anggota penarinya yang diajak ikut pentas keliling Eropa, di samping sebagai penari, penari ybs.merupakan petani di desanya, tetap teguh bersetia menjaga “awig-awig” di desanya. Solidaritas sosial yang menurut Sardono melahirkan kreatif berkesenian dalam tim kerja tangguh, “metaksu”, dengan karya-karya masterpiece.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Terima Audiensi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Badung

Dikatakan, sudamala dalam Kebudayaan Bali, mengalami krisis dan ancaman, yang diakibatkan oleh, menyebut beberapa:

a.Semakin rusaknya alam Bali, sehingga bauran Panca Maha Butha tercemari, sehingga “jiwa murni” menjadi semakin sulit kelahirannya.

b.Kemampuan disiplin diri untuk menjaga hubungan batin dengan alam (yang bersih), semakin berkurang, kepemimpinan diri yang terus meluncur, tergerus kepada kepentingan “tetek bengek” jangka pendek yang terlalu bias ke ukuran “kesekalaan”, nilai “keniskalaan” tertekan kebelakang.

c.Sikap “jengah” dalam menjaga spirit tradisi berkebudayaan melemah, berbarengan dengan dengan sikap memanjakan diri berlebihan, sehingga proses belajar, bekerja, pencarian makna yang melahirkan proses berkebudayaan “metaksu” menjadi semakin sulit ditemukan.

“Masyarakat mengalami keramaian dan bahkan kegaduhan, akumulasi dari “noise”, tetapi semakin kurang bisa merasakan dan menikmati suara-suara bermakna, kumpulan dari “voice”. Kemampuan reflektif untuk menjadi Jagra (Sadar), dan menemukan Bhadra (Keselamatan) semakin memudar dan terus mengalami kemerosotan,” katanya.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here