Refleksi Raina Tilem Jiestha, Pemimpin di Zaman Kali, Surplus Wacana dan Citra, Minus Program Aksi Bermakna

0
236

Jro Gde Sudibya

Hari ini, Selasa, 27 Mei 2025, raina Tilem Jiestha, Icaka 1947. Untuk mengasah kecerdasan pikiran, mempertajam kepekaan rasa dan juga hati, pantas disimak fenomena sosial: prilaku pemimpin yang surlus wacana dan citra, minus program aksi bermakna.

Menjadi lucu dan bahkan menggelikan, pemimpin mengalami reduksi makna: sekadar bagi-bagi uang dari APBN dan APBD, dan kemudian semua “habis perkara”. Lengkap dengan surplus wacana dan citra, demogogi politik (trampil bikin janji, soal penunaian janji, soal lain), dalam ungkapan bernada satire: “pagi ngomong tempe, sore bicara kedele”.

Didukung dengan suara riuh rendah para “buzzer”, pendengung, yang sarat dengan: misinformasi, miskonsepsi dan rekayasa opini publik yang melanggar: etika komunikasi, kepantasan sosial, akal sehat dan nakar sehat publik.

Konten komunikasi yang menjebak, membodohi dan berkontribusi dalam proses kemasabodoan dan pembodohan masyarakat. Sebut saja, ciri melekat dari “lekehan” zaman Kali – Kali Yuga -.

Sastra mengajarkan, “hukum besi” dinamika waktu, terus berubah, dari Zaman: Kertha, Tretha, Dwipara dan Kali, tetapi manusia sebagai keturunan Sang Hyang Manu, wajib menjaga, merawat kemulyaan, keutamaan yang melekat pada Sang Diri.

Sebagaimana tertera dalam Prasasti tertua Bali, Prasasti Sukawana, tahun 804, “Sakebda, Sira Wani, Murthi Ganitha, Masa Tetha, Palguna. Terjemahan bebasnya: kedatangan kita ke dunia ini, adalah keutamaan dan kemulyaan, laksanakan keutamaan dan kemulyaan itu dalam ke seharian kehidupan.

Dalam Prasasti Desa Buahan, Desa Sakral, “nemu guru” Gunung – Danau Batur, diungkapkan, mereka yang menjadi pemimpin, harus sanggup memimpin diri sendiri, mengembangkan filsafat hidup bisa berlaku sama terhadap Rwa Bhineda kehidupan, sehingga menjadi sangat bijak dalam laku kepemimpinan, menyebarkan kemulyaan kehidupan – Wisnu Murthi -, dan memperkokoh Dharma dalam diri secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Elizabeth International Gelar Open House Secara Virtual

Dengan kualifikasi kepemimpinan seperti di atas, diharapkan mampu bekerja dan menghasilkan kerja-kerja bermakna. Menyebut saja, beberapa kerja-kerja bermakna tsb., pertama, pemberi suri teladan bagi masyarakatnya, sehingga menjadi “batu penjuru” bagi masyarakat untuk melangkah.

Kedua, pemimpin dalam kearifan tua Bali, “ruruban gumi”, bersedia berkorban lahir dan batin, sekala – niskala dalam menjalankan Dharma kepemimpinan. Ketiga, meniru suri teladan kepemimpinan Raja Bali Mula Cri Aji Jayapangus, berempati pada rakyat, terutama rakyat miskin. Jika mereka pindah dari desanya karena kemiskinan, perbekel bertanggung jawab secara teknokrasi kepemimpinan, tetapi Sang Raja bertanggung jawab secara moral-spiritual. Spirit kepemimpinan yang ditiru oleh Ida Dalam Waturenggong di era Zaman Keemasan Gelgel.

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat: kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here