Refleksi Raina Buda Wage Merakih, Bhakti Perolehan Kecerdasan Finansial Berbasis Ethos Kerja Benar

0
158

Ilustrasi

Hari ini, Rabu, 11 Juni 2025, “nemu” raina Buda Wage Merakih, raina yang direlasikan dengan bhakti perolehan dan atau upaya perolehan kecerdasan finansial, berbasis ethos kerja yang benar.

Masyarakat Bali, sebut saja secara psiko teologi yang menganut keyakinan Panca Sraddha: Brahman, Atman, Karma Doktrin, Samsara, Moksha, menjadikan Hukum Karma sebagai “poros inti” kehidupan. Menggerakkan hidup dan kehidupan, bergerak di ruang sempit: Atman (“tercemari”) – Karma Doktrin – Samsara, sebuah kehidupan yang melelahkan, dengan “rutinitas-monoton” sarat dengan kedualistikan kehidupan -Rwa Bhineda-. Bagi mereka yang terpilih, oleh kekuatan perbuatannya, mampu bergerak pada ruang kehidupan yang luas, “jimbar”, MEMBEBASKAN, dalam prilaku yang “mepurwa daksina” – “nemu guru”, Atman – Brahman – Moksha. Energi kehidupan besar seluas 360 derajat, kekuatan yang nyaris tak terhingga “ngebekin” gumi. Semestinya, dalam konteks sastra ini, bhakti kecerdasan finansial hari ini dilakukan.
Bhakti kecerdasan finansial, yang didukung oleh ethos kerja kehidupan yang benar, dengan sejumlah cirinya, pertama, hidup adalah Jalan Tengah, Dumalada, material – spiritual, sekala – niskala, dengan orientasi final, Pembebasan Diri. Konsekuensi logisnya, ethos kerja berbasis Dharma, memegang etika, integritas diri dengan misi kuat pelayanan. Kedua, ethos kerja yang membumi, tidak (maaf) “ngomong-ngomong lonto”, mengembangkan “Taksu” profesi dan berkarya, yang bercrikan: belajar, bekerja berkelanjutan, berani mencoba dan salah -trials and errors-, mengembangkan inovasi diri dalam meresposn perubahan. “Taksu” yang merupakan resultante, kombinasi hasil dari paduan dari bekerjanya secara benar: Tubuh (Body), Pikiran ( Mind ) dan kekuatan Sang Jiwa ( Soul ). Ketiga, mengembangkan ethos kerja ” Jengah “, berani bersaing, memenangkan persaingan, dengan sikap bawah sadar (yang rendah hati); “kalau orang lain bisa, sayapun bisa” melalui rangkaian kerja “Metaksu”. Kerja dalam pandangan psikologi bercirikan Flow: paduan dari kekuatan Tubuh (baca disiplin), Pikiran (baca kecerdasan intelektual), Perasaan (baca kecerdasan emosional, empati), Hati (baca kecerdasan spiritual) yang melahirkan spirit kehidupan yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Wawali Arya Wibawa Mupuk Pedagingan Serangkaian Karya di Merajan Jero Kuta Sesetan

Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here