Sempat Dilarang, Mang Badeng Tetap Naik KMP Tunu Pratama Jaya

0
123

 

Balinetizen.com, Jembrana 
Seandainya saja Komang Surata (57) menuruti kata-kata temannya seprofesi, mungkin ia selamat dari tragedi tenggelamnya kapal penumpang KMP Tunu Pratama Jawa di Selat Bali.
Namun takdir berkata lain. Sopir truk dari Lingkungan Manega, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali ini ikut menjadi korban. Bahkan keberadaan pria yang akrab disapa Mang Badeng belum diketahui atau ditemukan.
Komang Surata alias Mang Badeng merupakan sopir truk bermuatan semen yang hendak menyebrang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali.
Dari penuturan Gede Sumerta (50), adik korban (Surata), bahwa kakaknya itu sebelumnya mengantri bersama sopir truk lainnya di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Namun karena truk dengan inisial HJ ditolak naik ke kapal penumpang KMP Tunu Pratama Jaya, maka kakaknya (korban) diminta untuk naik ke kapal.
“Yang menyuruh naik katanya ABK kapal. Padahal teman-temannya dan pengurus truk di Banyuwangi sudah melarangnya. Malah kakak saya diminta supaya naik kapal lainnya, tapi kakak saya tetap naik kapal itu (KMP Tunu Pratama Jaya),” ujar Gede Sumerta, adik korban dengan raut wajah sedih.
Ia mengetahui kakaknya ikut menjadi korban kapal tenggelam setelah  ditelpon oleh ponakannya (anak korban) Putu Julio Permana (31) yang juga bekerja menjadi sopir truk. Bahkan satu group dengan korban. “Ponakan saya sopir truk semen sama dengan bapaknya. Ponakan saya duluan menyebrang,” imbuhnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (4/7/2025) sore.
Menurut keponakannya, kata dia, bapaknya (korban) sempat menelpon menanyakan posisinya dan juga memberitahu bahwa bapaknya baru naik kapal KMP Tunu Pratama Jaya. Dan jika lelah, ia diminta untuk istirahat tidur namun HP nya disuruh ditaruh diatas dadanya. Dengan harapan jika bapaknya (korban) menelpon, bisa didengar.
“Waktu itu ponakan saya baru sampai di Tegalcangkring. Setelah sampai di perbatasan (Jembrana-Tabanan), ponakan saya lagi mendapat telpon, tapi dari temannya bahwa ada kapal tenggelam dan bapak ada di kapal itu. Setelah itu, ponakan saya menelpon saya,” terangnya.
Mendapat kabar tersebut, dirinya bersama beberapa keluarga lainnya pagi itu langsung berangkat ke Gilimanuk.
Dirinya sebenarnya sudah mendapat firasat. Sepulang dari “Ngayah” di Pura Merajapati sekitar pukul 23.00, ia kesulitan tidur. Padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah.
Malam itu, menurutnya, badan terasa gerah, padahal dingin. Istrinya sampai menyuruhnya untuk mencuci kaki. Namun setelah mencuci kaki, tetap tidak bisa tidur bahkan badan tetap gerah dan berkeringat. “Saya sampai berpikir akan ada apa ini. Jam 01.16 ponakan saya nelpon memberitahu kejadian itu. Pagi itu saya bersama istri dan istri kakak (korban) langsung berangkat ke Gilimanuk,” sebutnya.
Kakaknya itu (korban), kata dia, menekuni pekerjaan menjadi sopir truk sejak tahun 2006. Dan selama kurang lebih 19 tahun menjadi sopir, ia tidak pernah berpindah-pindah kerja. “Sama seperti saya tidak pernah pindah kerja. Saya sopir truk CSBI sejak tahun 1999. Kakak saya sopir truk SP (Surya Perkasa). Saya duluan bisa nyopir,” terangnya.

 

Baca Juga :  Bupati Suwirta Hadiri RAKORDA II, Harap Hasilkan Rekomendasi Strategi dan Rencana Tindak Penanggulangan Kemiskinan di Bali

Sumerta yang juga Mangku Dadia mengaku sudah menanyakan secara niskala. Bahwa kakaknya (korban) akan ditemukan di kawasan barat. Namun sebelumnya diminta untuk melakukan persembahyangan di Kemulan Mrajan dan ini sudah dilaksanakan. “Sekarang ini saya dan keluarga berencana ke Pura Segara Rupek terus ke barat sampai di pertigaan Cekik,” ujarnya.

Dengan upaya tersebut, ia berharap agar kakaknya (korban) segera ditemukan. “Astungkara, mudah-mudahan kakak saya segera ditemukan,” harapnya.

Ia menduga saat kejadian kapal tenggelam, kakaknya itu tidur di dalam truk. Dan itu adalah kebiasaan para sopir. Karena selain lelah serta di kapal tidak tersedia ruangan untuk sopir istirahat dan juga disebabkan mobil parkir di dalam kapal terlalu mepet sehingga kesulitan untuk membuka pintu.

Dengan upaya tersebut, ia berharap agar kakaknya (korban) segera ditemukan. “Astungkara, mudah-mudahan kakak saya segera ditemukan,” harapnya.

Diberitakan sebelumnya KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam dalam pelayaran dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali.

Kapal tenggelam di Selat Bali pada Kamis (3/7/2025) dini hari. Dalam pelayaran itu, KMP Tunu Pratama Jaya dalam manifestnya tercatat mengangkut 53 penumpang dan 12 kru. Kapal ini juga membawa 22 kendaraan, termasuk 14 truk tronton. (Komang Tole)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here