Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, pemikir kebangsaan.
Diberitakan Guruh Soekarno Putra putra bungsu Bung Karno berpulang ke “Jati Mula”, Sabtu pagi hari, 26 September 2026, nemu bulan penuh Purnama Kapat, bulan Kartika sasih Kapat Icaka 1948. Dari perspektif keyakinan pemujaan Tuhan Wisnu, waktu terbaik untuk memuja Tuhan Cri Narayana, pada saat Matahari berada pada posisi paling di Utara -Ngutara Yana-.
Implisit bermakna, insan manusia yang “mulih ke jati mula” pada hari terbaik ini, “dauh ayu”, diterima jalannya menuju alam rokhani sorga sesuai dengan karmanya.
“Dauh ayu” mulih ke jati mula bagi budayawan ini, menggambarkan kualitas hidupnya, prestasinya di dunia yang maya ini, dalam perspektif hukum karma, dalam geguritan Bali tertulis “pahala karma natan simpang”, hukum karma selalu bekerja akurat.
Dalam karya sastra rokhani Mahabaratha, dalam episode gugurnya Rsi Bhisma, Sang Rsi yang mumpuni ini, konon menunggu waktu sekitar 9 bulan untuk sampai bulan penuh Purnama Kapat, untuk “mulih” ke sunya loka. Selama 9 bulan menunggu dalam tubuh penuh luka, di atas ranjang pembaringan dari tumpukan panah yang disiapkan cucunya tersayang Kesatrya Arjuna. Beratapkan langit biru, menunggu Matahari bergerak menuju Utara -ngutara yana-, waktu terbaik, “pulang” “mulih ke jati mula”.
Dalam karya sastra Mahabaratha, tertulis nasehat Rsi Naradha kepada para Pandawa yang nyaris putus asa, pasca Abimanyu gugur.
“Suka muang duka awasya wates iki, lawan pati urip”. Terjemahan bebasnya, suka dan duka datang silih berganti, jangankan suka dan duka, kelahiran dan kematian akan datang. Pesan moralitas yang dalam,untuk melakoni kehidupan meminjam istilah Soekarno elan vitalitas dalam mengarungi dan memaknai kehidupan.
Selamat jalan Mas Guruh, astungkara, bersua dengan ayahnda tercinta Soekarno di Sorga sana. Sadhu.
Rahayu.

