Balinetizen.com, Jembrana
Sistem penerimaan murid baru (SPMB) jenjang pendidikan SMA/SMK di Kabupaten Jembrana, Bali menimbulkan persoalan. Puluhan calon siswa didampingi orang tuanya masing-masing, Minggu (13/7/2025) pagi mendatangi rumah anggota DPRD Jembrana, Ketut Suastika.
Mereka datang ke rumah Ketua Komisi I DPRD Jembrana di Desa Tuwed, Kecamatan Melaya untuk mengadukan nasib anaknya terkait penerapan SPMB.
Pasalnya, banyak para calon siswa baru dari Kecamatan Melaya tidak diterima di sekolah terdekat. Namun sebaiiknya justru diterima di sekolah yang jaraknya hingga puluhan kilometer dari tempat tinggalnya.
“Mereka datang ke rumah saya untuk menyampaikan kekecewaannya terkait sistem penerimaan siswa baru yang digunakan saat ini,” ujar Suastika, Minggu (13/7/2025).
Karena, sambungnya, mereka dan juga yang lain tidak diterima di sekolah yang ada di Melaya, namun diterima di sekolah yang jaraknya sampai puluhan kilometer.
“Justru ada anak dari Desa Melaya, Nusasari dan Warnasari yang, diterima di Grokgak, Buleleng dengan jarak tempuh dari rumahnya sekitar 35 sampai 50 kilometer,” jelas pria yang akrab disapa Cohok.
Dengan kondisi ini, kata Cohok, banyak dari mereka yang menyampaikan bahwa tidak akan mendaftar ulang dan tidak akan melanjutkan sekolah. Karena semangat mereka telah diamputasi atau diputus oleh sistem yang kurang bagus.
“Semangat mereka untuk bersekolah telah diputus oleh sistem. Banyak dari mereka yang menyatakan tidak akan melanjutkan sekolah,” imbuhnya.
Cohok berharap ada solusi dari pemerintah karena ini menjadi tanggungjawab pemerintah sehingga anak-anak dapat bersekolah. “Saya harap ada solusi bagi mereka, ini akan kami kawal, kasihan anak-anak harus menempuh jarak puluhan kilometer,” tandas Cohok, politikus PDIP.
Cohok bahkan memberikan masukan yakni dengan menambah ruang kelas baru di SMA Negeri 1 Melaya. Dengan begitu sehingga bisa menampung anak-anak yang diterima di sekolah di Geokgak dan SMAN 3 Negara maupun anak-anak yang belum diterima di sekolah manapun. (Komang Tole)
