Risiko Manipulasi Data Ekonomi Makro Sangat Berbahaya

0
403

Balinetizen.com, Jakarta

Risiko manipulasi data ekonomi makro sangat berbahaya. Manipulasi data ini, bisa berakibat atas kesalahan kebijakan fiscal dalam penentuan daftar skala prioritas pembangunan.

“Penyajian yang terlalu optimis tetapi faktanya tidak demikian, bisa berdampak kepentingan orang miskin dikorbankan, pengorbanan terhadap kelompok miskin bisa melahirkan wabah kelaparan,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Rabu 13 Agustus 2025.

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Kwartal II/2025 5,12 persen, sedangkan Kwartal I/2025 4,87 persen.

Sementara Celios, sebuah lembaga riset ekonomi ternama meragukan data yang dilansir pemerintah untuk krawartal ke dua di atas. Dengan alasan, sejumlah data pendukung yang tidak memadai dan tidak cocok dengan realitas di masyarakat. Seperti: tekanan terhadap daya beli, tingginya PHK dan pengangguran.

Sebagaimana diberitakan di media sosial, Celios berencana melaporkan ke PBB, UN Statistical Division, UN Statistical Commosion untuk memeriksa keabsahan metodologi pengambilan data BPS untuk data pertumbuhan ekonomi Kwartal II/2025.

“Kalau laporan ini sampai ini terjadi, berisiko menimbulkan kegemparan yang dapat berdampak turunnya kepercayaan investor terhadap data ekonomi Indonesia,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, risiko manipulasi data ekonomi makro sangat berbahaya, yang bisa berakibat:

a.Kesalahan kebijakan fiscal dalam penentuan daftar skala prioritas pembangunan. Penyajian yang terlalu optimis tetapi faktanya tidak demikian, bisa berdampak kepentingan orang miskin dikorbankan, pengorbanan terhadap kelompok miskin bisa melahirkan wabah kelaparan.

b.Belanja pemerintah yang disajikan optimis, tetapi faktanya tidak, bisa berdampak terhadap tersumbatnya program kesempatan kerja, padahal ada jutaan tenaga kerja yang sedang mencari pekerjaan.

c.Ekspansi kredit perbankan yang disajikan optimis, tetapi faktanya tidak demikian, bisa menyumbat pertumbuhan industri manufaktur, sedangkan industri ini banyak sedang “mengap-mengap” antara hidup dan mati.

Baca Juga :  Program Internasional, Undiksha Terima Mahasiswa Holy Cross of Davao College Filipina

e.Ekspor netto yang dilaporkan baik, tetapi faktanya banyak masalah, bisa menekan pertumbuhan industri yang berorientasi ekspor dengan dampak ikutannya: tekanan terhadap perolehan cadangan devisa, penciptaan kesempatan kerja.

“Filosofi bahwa data adalah fakta suci (sacred fact), semestinya tidak diingkari oleh pemerintah dalam perumusan kebijakan publik, karena kepentingan publik akan menjadi korbannya,” kata
Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here