Raina Pagerwesi, Prahara di Pulau Dewata

0
185

Ilustrasi

Penulis: Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, pembelajar kehidupan.

Rabu, 10 September 2025, raina Pagerwesi,sasih Ketiga, Icaka 1947. Rangkaian makna mulai dari Saraswati -aliran pengetahuan tanpa henti-.BanyuPinaruh Redite Sinta -purifikadi diri- di hari “pertama” putaran 210 hari kehidupan.Hari “kedua” Coma Ribek -pemujaan Tuhan Wisnu sebagai sumber kemakmuran-. Hari “ketiga” Sabuh Mas direlasikan dengan cakti Tuhan sebagai sumber kemakmuran finansial-. Hari ke empat “dijaga” keberlanjutannya di raina Pagerwesi, dalam rentang waktu 210 hari ke depan. Ritual upakara yang padat makna, dengan “sumbu”pengetahuan yang dipancarkan Tuhan Dewi Saraswati.
Pesan spiritualitas yang kaya makna tentang nilai: kesucian, kebersihan hati, kejujuran diri, kecerdasan viveka menyimak rwa binedha kehidupan plus daya tahan mental (resilensi) dalam menghadapi “deru campur debunya” perubahan.
Berangkat dari sebut saja “modal” rokhani di atas, jujur harus dikatakan, PRAHARA, badai kehidupan sedang menimpa Bali, persis tanggal 10 September 2025, banjir bandang menerjang sebagian Badung dan Denpasar, disebabkan oleh: merambah luasnya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang berakibat sistem meretokrasi dikorbankan, kebijakan publik yang tidak berempati pada rakyat, rusaknya lingkungan, terpinggirkannya masyarakat secara ekonomi, masyarakat menjadi terasing (teraleniasi) di rumah budayanya sendiri. Plus: maraknya perjudian, massifnya penggunaan narkoba dan penyimpangan susila.
Pangkal penyebab dari PRAHARA yang bisa disebabkan oleh, menyebut beberapa, pertama, anomali, fenomena semakin umum, orang melanggar swadharmanya. Kedua, kerapuhan karakter, sehingga orang menjadi gugup dan bahkan tidak berdaya, tunduk takluk berhadapan dengan “dasa muka” kekuasaan. Kekuasaan yang punya kecenderungan salah guna -power tend to corrupt-. Ketiga, kualitas kelembagaan dan kinerjanya di tingkat marginal (pas-pasan),di titik nadir, “apang kuala ada” (bhs.Bali), akibat KKN,sehingga tidak bisa diharapkan banyak sebagai pemberi solusi yang mencerahkan.
Prahara sedang berlangsung, sebut saja dari kekuatan penghancur Cakti Tuhan Wisnu dengan simbolik Cakra, banjir bandang, peringatan karena keserakahan manusia yang semena-mena pada alam. Kalau keserakahan terus berlanjut, hanya menunggu waktu saja – as a matters of time – kekuatan Cakti Tuhan Brahma , Gni, akan menunjukkan daya rusak Nya, kobarin api dan rangkaian gunung meletus.
Tahun -Tahun karma mewajibkan manusia untuk kembali sadar -jagra- sebelum proses “penghancuran” semakin dashyat.

Baca Juga :  Kasus Sembuh Covid-19 Bertambah 34 Orang di Kota Denpasar, Kasus Positif Bertambah 49 Orang dan 2 Pasien Meninggal Dunia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here