Balinetizen.com, Buleleng-
Hari ini, Senin, 22 September 2025, raina Purnama Ketiga. Besok, “penanggal a pisan Sasih Kapat, “ngenjek” puncak Bulan Kartika yang di masa lalu, bunga-bunga tumbuh mekar, bakal putik bertumbuh, yang nanti di bulan bersih Sasih Kedasa bisa dipetik. Gerakan mata hari di Sasih Kapat menuju ke Utara -Ngutara Yana- mencapai puncaknya bulan penuh Purnama Kapat, bulan terbaik memuja Tuhan Wisnu – Cri Narayana – Uttari Devi. Pujawali berlangsung luas di Bali, menyebut beberapa pura menyelenggarakan bhakti piodalan: Pucak Sinunggal, Pucak Tegeh Penulisan, Pura Gede Batur ring Desa Batur, Pura Ulun Danu Batur ring Desa Songan, Pura Penataran Agung Besakih
Dari narasi singkat di atas, alam mesti dirawat, dijaga dan bahkan dihormati dalam tradisi tua nan kaya, Agama Alam, dalam ungkapan singkat, padat makna: “Alas merupakan panggungan besar bhakti kepada Tuhan”.
Mari kita simak sebut saja panoroma banyak Pura di Bali. Berdiri, didirikan oleh para suci tempo dulu, dekat dengan laut, mata air, dimana pemandangan laut, danau, hutan plus beji, bukit dan gunung begitu indah mempesona. Ekspresi dari tempat suci di mana alamnya terjaga, Rtem (keseimbangan alamnya) terjaga, ditemukannya ketenangan,kesucian dan kedamaian di hati.Pemimpin yang lahir dari sari pati bauran Panca Maha Butha (pertiwi, apah, bayu, teja, akasa), batinnya terhubung-menyatu (embodied) dengan alam, sehingga menjaga Alam, merawat hukum alam dan melestarikan, semestinya merupakan panggilan batinnya, panggilan hatinya yang paling dalam -Padma Hradaya-.
Dibagikan 3 sloka dalam RGVEDA, Samhita Sakala Sakha Mandala I, II, III, yang diterjemahkan Wayan Maswinara, tentang makna sentral Alam Raya (dalam Sistem Keyakinan Tuhan) dalam proses pendakian rokhani manusia, sebut saja berbasis kesadaran terhadap bumi yang kita huni, sebagai bagian dari Alam Raya.
Bab Satu Sukta 1 sloka 1 memberikan penyadaran:
“Kami memuja Tuhan, pendeta utama alam semesta, yang melakukan kegiatan melalui hukum abadi, yang memelihara dan menghidupi segala yang bersifat ilahi dan cemerlang”.
Sukta 2, sloka 1 dan 2:
“Ya Tuhan sebagai kekuatan alam semesta dengan cinta kasih – Mu semoga Engkau datang kepadaku. Segala puja-puji ini kami persembahan untuk – Mu. Terima kasih dan dengarkan seruan para penyair dan para cerdik pandai ini”.
“YaTuhan sebagai kekuatan alam semesta ini; kami para pemuja – Mu menyeru – Mu dengan doa-doa suci, yang mencurahkan kerinduan emosional lembut dari kedalaman hati kami”.
Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara

