Lebih dari Sekadar Crypto, BBS 2025 Bahas Perlindungan Data dan Ekosistem Digital

0
406

Balinetizen.com, Denpasar-

Bali kembali menjadi pusat perhatian dunia teknologi dengan terselenggaranya Bali Blockchain Summit (BBS) 2025 pada 30–31 Oktober mendatang. Bertempat di Dharma Negara Alaya, Denpasar, forum internasional ini akan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, komunitas teknologi, hingga media dalam satu panggung besar.

Mengusung tema “Blockchain for Protection and Sustainability: Building Digital Trust for a Sustainable Future”, acara ini tidak hanya membahas blockchain sebagai teknologi finansial, tetapi juga fondasi penting dalam membangun masa depan digital yang lebih aman, transparan, dan berkelanjutan.

Ketua Panitia BBS 2025, I Gede Putu Rahman Desyanta, menjelaskan bahwa sejak pertama kali digelar pada 2023, forum ini telah berkembang menjadi ruang tahunan bagi siapa saja yang percaya blockchain bisa membawa dampak nyata bagi masyarakat.

“Tahun ini lebih dari 3.000 peserta diperkirakan hadir. Mereka akan mengikuti beragam agenda mulai dari konferensi, diskusi panel, pameran teknologi, hingga sesi networking yang mempertemukan pengambil kebijakan dan pemimpin industri,” ujar Rahman yang juga menjabat CEO Baliola sekaligus founder Mandala Chain, di Denpasar Sabtu (27/9/2025).

Selain itu, untuk menjangkau publik lebih luas, BBS 2025 juga menghadirkan berbagai aktivitas kreatif seperti kompetisi trivia, quiz cerdas cermat, hingga turnamen e-sport.

Rahman menegaskan bahwa blockchain kerap disalahpahami hanya sebatas terkait cryptocurrency. Padahal, potensinya jauh lebih luas.

“Blockchain memiliki peran penting dalam perlindungan data, keamanan siber, hingga sistem digital yang lebih efisien. Tahun lalu menjadi turning point ketika untuk pertama kalinya di Indonesia, pejabat daerah hingga kementerian membahas blockchain secara serius di level kebijakan. Itu memberi ekspos global yang luar biasa,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada 2024 sejumlah proyek implementasi blockchain mulai berjalan, baik di Jawa Barat, Kota Denpasar, hingga uji coba di Sumedang dan Bandung. Tahun ini, fokus bahasan akan lebih dalam pada isu regulasi dan komitmen para pemangku kebijakan.

Baca Juga :  Kodim 1611/Badung Selenggrakan Pembinaan Wawasan Kebangsaan

“Setiap klik, setiap scroll di media sosial membentuk identitas digital kita. Sayangnya, identitas itu kini dikendalikan algoritma. Blockchain memberi peluang untuk mengembalikan kendali atas data ke tangan individu, karena data pribadi adalah hak asasi manusia,” ungkap Rahman.

Isu lain yang juga menjadi sorotan dalam BBS 2025 adalah perlindungan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP). Menurut Rahman, hal ini sangat relevan bagi Indonesia, khususnya Bali, yang kaya akan karya budaya dan komunal.

“Bali memiliki jutaan intellectual property, banyak yang bersifat komunal. Jangan sampai ada pihak asing mengklaimnya sebagai milik mereka. Dengan blockchain, kita bisa melindungi dan mendokumentasikan kekayaan tersebut dengan transparan,” ujarnya.

Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Denpasar, BKRAF Denpasar, serta berbagai pemangku kepentingan blockchain di Indonesia. BBS 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertemuan teknologi, melainkan juga gerakan menuju ekosistem digital yang lebih aman, terbuka, dan berkelanjutan.

“BBS 2025 lahir dari kesadaran bahwa Indonesia membutuhkan fondasi digital yang dapat dipercaya. Summit ini tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang masa depan bersama yang inklusif,” pungkas Rahman.

 

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here