Pagar GWK Dibongkar, PR Besar Gubernur Koster untuk Menegakkan “Benang Basah” Tercemarnya Simbol Kesucian Bali

0
3736
Patung Garuda Wisnu Kencana

Ilustrasi : Patung GWK

Balinetizen.com, Denpasar

Pagar GWK Rencananya Akan Dibongkar hari ini 1 Oktober 2025. Ini merupakan pekerjaan rumah (PR) besar Gubernur Bali Wayan Koster untuk Menegakkan ” Benang Basah” Tercemarnya Simbol Kesucian Bali.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, pengamat kebijakan publik dan kecenderungan masa depan, Rabu 1 Oktober 2025.

“Jangan terlalu bersuka cita dengan rencana pembongkaran jalan di proyek GWK yang kontroversial itu. Nyatanya simbol kesucian telah ternodai. Apa langkah Gubernur Koster untuk mengoreksi kekeliruan masa lalu? ” Kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, membangun Garuda Wisnu Kencana sebagai simbol Cakti Tuhan Wisnu Cri Narayana, di kosmologi ruang yang dianggap benar, di Utara Bali, Bukit Tinga-Tinga, sebelah Barat Seririt?

Dikatakan, pembangunan simbol yang diharapkan “metaksu”, dengan kesucian pikiran dan hati, karma sukla, “tan kabhiyahparan” – tanpa kekotoran pikiran dan hati.

Di sini kata Jro Gde Sudibya dipentingkan yakni mengembalikan kepemimpinan yang “lascarya”, berempati pada derita rakyat seperti yang diteladankan oleh raja Bali terdahulu.

Menurut Jro Gde, jejak kepemimpinan Cri Aji Pangus sampai hari tetap jelas, sebagai “tetuek kayun” para perbekel di banyak desa Bali Pegunungan. Kepemimpinan Ida Dalem Waturenggong, tetap dikenang dalam karya berkesenian tari sakral, tari wali dengan merujuk kepemimpinan Ida Dalem.

Dikatakan, kepemimpinan Cri Aji Jayapangus, Ida Dalem Waturenggong, telah melegenda, menjadi mitos (dalam artian positif), kearifan kepemimpinan masa lalu “ditarik” ke masa kini, bagian dari spirit kehidupan masa kini.

” Kualitas kepemimpinan Sang Raja, menjadi tolok ukur dalam menilai kepemimpinan Bali berikutnya,” katanya.

Kembali ke masa lalu? “Ya tidak, jarum jam tidak bisa diputar ke belakang. Hukum besi waktu bergerak ke depan. Tetapi kearifan waktu kehidupan Tri Semaya, Atitha (masa lal), Nagatha (masa depan) Warthamana (masa kini), membuat perspektif kepemimpinan menjadi holistik, berorientasi ke masa depan dengan spirit keberlanjutan. Sehingga “penyakit” kepemimpinan seperti: “nyapa kadi aku”, menafikan sejarah, kepemimpinan dengan ilusi dan delusi dapat dihindari.” kata Jro Gde Sudibya, pengamat kebijakan publik dan kecenderungan masa depan.

Baca Juga :  Rancang E-Arsip, Percepat Kearsipan Mordern dan Handal melalui Sistem Kearsipan Dinamis

Jurnalis Nyoman Sutiawan

situs slot gacor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here