Viral Video! Eksploitasi Gajah Diduga Terjadi di Bali

0
385

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

Sebuah video unggahan organisasi internasional People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) kembali memantik sorotan terhadap praktik eksploitasi satwa di sektor pariwisata Bali.

Video tersebut diunggah oleh akun asal luar negeri bernama Margarita Sachkova di laman resmi PETA Australia (https://www.peta.org.au) pada 8 November 2025. Dalam video berdurasi beberapa menit itu, terlihat gajah-gajah di Bali dirantai di kandang sempit dan tampak memiliki luka di kepala serta kaki.
Menurut narasi yang menyertai video tersebut, pawang menggunakan bullhook — alat mirip besi penusuk dengan kait logam — untuk memukul dan menusuk gajah agar patuh terhadap perintah wisatawan.

“Setiap kali gajah tidak mengikuti arahan, kami tidak memberi mereka makanan. Anda harus memukul mereka agar patuh,” tulis Sachkova dalam narasi yang dikutip dari unggahan tersebut.

PETA tidak menyebutkan secara spesifik lokasi pengambilan gambar, namun dalam narasi disebut nama “Bakas Adventure Elephant Safari and Rafting”, “Mason Elephant Park & Lodge”, serta “Bali Zoo”.
Ketiga tempat wisata ini diketahui berlokasi di wilayah Kabupaten Gianyar dan Klungkung, Bali, yang memang mengandalkan atraksi wisata berbasis gajah.

Organisasi PETA menuding tempat-tempat tersebut memasarkan diri sebagai tempat penyelamatan gajah (elephant sanctuary), padahal menurut mereka, praktik di lapangan menunjukkan sebaliknya.
PETA menyerukan agar wisatawan tidak mendukung pariwisata yang mengeksploitasi satwa liar, terutama gajah yang seharusnya hidup bebas di alam.

“Industri pariwisata telah menipu turis agar membayar untuk pelecehan gajah yang dirantai dan disiksa setiap hari,” tulis Sachkova.

Aktivis satwa liar dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Femke den Haas, saat dikonfirmasi pada Senin (10/11/2025), menyebut bahwa laporan PETA bukan hal mengejutkan.

Baca Juga :  Polres Bengkalis Buru Perampok Bersenpi Rampas 2 Kg Emas

“Kami sudah lama tahu praktik eksploitasi gajah masih terjadi di beberapa destinasi wisata Bali,” ujar Femke.

“Bahkan saat pandemi COVID-19, ada tempat wisata yang menelantarkan gajah-gajahnya karena tak ada pengunjung. Kami dari JAAN sampai harus membantu memberi makan selama tiga bulan lebih,” tambahnya.

Femke menegaskan bahwa pemerintah harus segera bertindak tegas untuk menghentikan kekerasan dan eksploitasi gajah di sektor pariwisata.
Jika tidak, ia memperingatkan bahwa reputasi pariwisata Bali di mata dunia bisa rusak.

“Wisata berbasis kekerasan pada satwa bukan lagi hal yang bisa diterima turis asing. Negara seperti Thailand saja sudah berubah. Gajah dibiarkan hidup bebas, tapi turisme tetap berjalan,” tegasnya.

PETA menutup laporannya dengan seruan keras agar wisatawan tidak lagi membayar untuk naik atau berfoto bersama gajah.
Menurut mereka, setiap rupiah yang dibayarkan justru memperpanjang penderitaan satwa liar yang dipaksa bekerja di luar habitatnya.

Pemerhati satwa meminta pemerintah daerah Bali dan Kementerian terkait agar segera melakukan peninjauan dan audit terhadap izin operasional tempat wisata yang melibatkan gajah, untuk memastikan kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas utama.(ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here