Balinetizen.com, Denpasar –
Bali Mengalami Darurat dan Krisis Lingkungan, “Clash Actions” dari Masyarakat Sipil Menjadi Penting.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan, Kamis 13 Nopember 2025.
Dikatakan, pasca banjir bandang 10 September 2025, terbuka kotak pandora Bali mengalami darurat lingkungan dan krisis lingkungan.
“Banjir tidak saja disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi manajemen pembangunan Bali selama ini yang “memuja” pertumbuhan ekonomi, abai pada lingkungan, meminggirkan masyarakat lokal,” katanya.
Menurutnya, konsekuensi dari paham “Developmentalism” di atas, etika lingkungan dikorbankan, banyak aturan hukum dalam tata ruang, peruntukan wilayah dan pemberian izin bangunan, persyaratan Amdal dilanggar.
Dikatakan, konsekuensi dari Developmentalism di atas, kerusakan lingkungan menjadi massif, kawasan pesisir pantai, DAS, empat danau, kawasan hutan, Gunung terutama Gunung Batur yang telah “teraniaya” oleh
kegiatan wisata yang tidak bertangung-jawab, merusak fisik lingkungan Gunung dan vibrasi kesuciannya.
“Aura kesucian tercemar, bisa disimak massifnya pembangunan fasilitas wisata antara Labuan Sait sampai Bukit Uluwatu. Hal yang sama terjadi di sekitar “palebahan” Pura Dalem Nusa – Goa Giri Putri – Puncak Mundi,” katanya.
Menurutnya, kerusakan lingkungan Bali yang parah, destruktif terhadap vibrasi kesucian, akibat kapitalisme pariwisata yang tidak terkendali, visi kepemimpinan yang tidak jelas dengan penegakan hukum yang “memble”.
Dikatakan, kerusakan Bali nyaris tak terpulihkan -point no return for environmental recovery-, terkecuali ada upaya luar biasa untuk melakukan koreksi kebijakan dengan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu dan kuat.
“Rencana “Clash Actions” dari gerakan masyarakat sipil perlu didukung, untuk tegaknya supremasi hukum, sekaligus sebagai “wake up call” bagi para pengambil kebijakan untuk mengambil langkah lebih serius, terprogram dengan visi yang lebih jelas untuk penyelamatan Bali dan masa depannya,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

