Balinetizen.com, Buleleng –
Desa Sarimekar merupakan salah satu desa di Kecamatan Buleleng yang menyimpan perjalanan sejarah yang panjang sekaligus potensi budaya, ekonomi dan pertanian yang menonjol. Meskipun nama “Sarimekar” belum banyak dikenal luas, desa ini sesungguhnya memiliki kekayaan tradisi serta kreatifitas masyarakat yang sudah berkembang.
Jejak Sejarah dari Runuh ke Sarimekar
Tak banyak yang tahu bahwa di balik nama Desa Sarimekar yang masih asri, tersimpan kisah sejarah panjang sejak abad ke-16. Dahulu wilayah ini dikenal dengan nama Runuh, yang kini masih digunakan sebagai nama Desa Adat Runuh. Nama itu bukan sekadar sebutan geografis, melainkan jejak dari para leluhur yang dipercaya sebagai pendiri desa.

Wawancara Dengan Putu Joli Mariada, Penyarikan Desa Sari Mekar
Berdasarkan wawancara dengan Putu Joli Mariada, Penyarikan Desa Sarimekar, pada Senin (10/11/25), sejarah desa ini bermula pada masa pemerintahan Ki Barak Panji Sakti. Saat itu, rombongan kerajaan yang menuju timur melewati wilayah yang kini dikenal sebagai Sarimekar. Di tempat tersebut, keris pusaka sang raja dikisahkan jatuh, dan secara ajaib pepohonan di sekitarnya runtuh. Sejak saat itu, wilayah ini dikenal dengan nama Gunung Sari Runtuh.
Dari kawasan ini pula muncul dua tokoh leluhur sakti dan kebal, Kumpi Runuh dan Kumpi Basong, yang berasal dari Kerajaan Gunung Sari di Padang Bulia. Dikisahkan, pada masa itu terdapat sekelompok warga kerajaan yang tidak patuh terhadap aturan dan memberontak kepada raja. Karena dianggap melawan kekuasaan, mereka disepekang (diusir) dan diperintahkan untuk kembali ke Kerajaan Gelgel.
Namun, dalam perjalanan menuju Gelgel, Kumpi Runuh dan Kumpi Basong bersama 18 pengikutnya menerima wahyu di sebuah gunung, yang ini dikenal sebagai Pura Bukit Sinunggal. Dalam wahyu itu disebutkan, bahwa sesampainya di Gelgel mereka tidak akan diterima, dan akan diminta membangun pemukiman baru di bagian utara. Benar saja, setibanya di Gelgel, rombongan ini ditolak dan kemudian diperintahkan untuk mendirikan desa baru di sebelah utara kerajaan. Di sanalah mereka menetap dan membangun kehidupan baru yang kelak dikenal dengan nama Runuh, diambil dari nama Kumpi Runuh sebagai pemimpin mereka. Maka untuk menghormati nya setiap piodalan di pura desa adat Runuh mepiuning ke pura bukit sinunggal
Dalam kisah tutur masyarakat, wilayah baru ini awalnya belum memiliki nama. Karena berasal dari kelompok yang diasingkan, warganya dikenal tangguh dan keras mempertahankan diri. Dari masa ke masa, nama Runuh kemudian melekat sebagai sebutan bagi wilayah dan masyarakatnya.
Memasuki tahun 1987, sekelompok mahasiswa KKN Universitas Udayana datang ke Runuh. Awalnya mereka merasa khawatir karena cerita lama yang menggambarkan warga Runuh keras dan tertutup. Namun kenyataannya, mereka justru disambut hangat dan ramah oleh masyarakat. Akhirnya tokoh adat, dibawah pimpinan perbekel Ketut Bales dan Kelian Adat Nyoman Sutama mengadakan paruman desa untuk menentukan nama baru. Dari dua pilihan, Sari Kembang dan Sarimekar, akhirnya disepakati nama Sarimekar sebagai nama resmi Desa Dinas, sementara Desa Adat Runuh tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan leluhur.
Potensi Desa Sarimekar yang Tumbuh dari Seni, Kreativitas, dan Alam
Desa Sarimekar di Kecamatan Buleleng bukan sekadar wilayah yang sarat sejarah. Dari masa ke masa, desa yang dulu dikenal sebagai Runuh ini terus menumbuhkan kehidupan baru lewat seni, kerajinan, dan pertanian. Semua berpadu menjadi wajah khas desa yang terus mekar dari waktu ke waktu.

Ni Luh Made Fitri : Generasi Ketiga Sanggar Seni Karya Remaja Desa Sari Mekar
Joged Bumbung, Napas Seni yang Tak Pernah PadamSarimekar dikenal sebagai salah satu desa yang turut melestarikan kesenian Joged Bumbung, tarian rakyat paling populer di Buleleng. Di desa inilah berdiri Sanggar Seni Karya Remaja, yang sejak tahun 1951 tetap konsisten menjaga warisan seni Joged agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Didirikan oleh almarhum Ketut Jingga, sanggar ini kini dikelola oleh generasi ketiga, Ni Luh Made Fitri Yudiastuti, yang tetap setia menjaga keaslian gerak joged sambil menambahkan sentuhan inovasi agar lebih digemari generasi muda.
“Joged Bumbung itu bukan sekadar hiburan, tapi wujud kebersamaan dan ekspresi kegembiraan masyarakat,” ujar Fitri.
Dengan sekitar 50 anggota aktif, sanggar ini rutin tampil dalam upacara adat hingga Pesta Kesenian Bali (PKB). Alunan gamelan yang mengiringi tarian Joged Bumbung khas garapan Ketut Jingga berpadu mencipta suasana meriah, dengan suara bumbung bambu yang berdenting.
Ekonomi Kreatif yang Tumbuh dari Tangan Warga
Tak hanya di panggung seni, kreativitas warga juga terlihat dari geliat usaha mikro dan kerajinan lokal.

I Wayan Wenten Pemilik Kerajinan Logam Yang Ada Di Desa Sari Mekar
Salah satunya adalah Wenten Art, usaha kerajinan logam tradisional milik I Wayan Wenten yang telah berdiri sejak 1992. Dari bengkel sederhana, Wenten Art memproduksi berbagai perlengkapan upacara seperti sangku, genta, paketis, dan nampan tembaga menggunakan logam pilihan seperti tembaga dan perak.
Setiap detailnya mencerminkan ketelitian dan nilai spiritual yang tinggi. Harga produknya beragam, mulai dari Rp5.000 hingga jutaan rupiah, dan telah dikenal di berbagai pameran lokal.

Luh Ganti Pemilik Kerajinan Lamak Desa Sari Mekar
Sementara itu, Lamak Dwi Jati milik Luh Ganti sejak 2015 memproduksi kain lamak untuk upacara dengan tabulon, payet, dan uang bolong. Dengan harga mulai Rp10.000–Rp20.000 per set, produk ini tak hanya mempercantik pelinggih, tapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.

Ketut Tunas Pengrajin Ingka Di Desa Sari Mekar
Potensi lain datang dari Ingka Pak Tunas di Dusun Lebah Mantung. Sejak 2011, Ketut Tunas dan istrinya tekun membuat ingka dari lidi busung yang melalui proses pengeringan dan vernis hingga mengilap. Harganya berkisar Rp4.500–Rp70.000 per buah. Meski masih dipasarkan sederhana, kualitasnya mulai menarik minat pembeli di pasar-pasar tradisional Buleleng.
Subak dan Sawah, Sumber Kehidupan yang Menjaga Keseimbangan
Selain terkenal dengan seni dan kerajinan, Sarimekar juga berpotensi menjadi desa agraris yang subur dengan enam subak aktif, yakni Lebah Mantung, Apit Yeh, Teheb, Lebandang, Buwug, dan Bedugul.

Made Suparta, Kelian Subak Apit Yeh Desa Sari Mekar
Menurut Made Suparta, Kelian Subak Apit Yeh, sebagian besar warga menanam padi dan kacang hijau dengan sistem tanam tiga kali setahun. “Kami tetap berusaha menjaga pola tanam tradisional, walau tantangan terbesar tetap pada ketersediaan air,” ujarnya.
Lahan-lahan sawah berundak yang hijau menghadirkan pemandangan alami yang menyejukkan. Dengan sistem irigasi subak yang diwariskan turun-temurun, desa ini juga berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi pertanian.
Kini, Sarimekar bukan sekadar kisah lama tentang Runuh dan leluhur yang diasingkan. Desa ini telah menjelma menjadi ruang hidup yang berdenyut, tempat di mana seni menari, kerajinan tumbuh, dan alam terus memberi. (mahasiswa KKN)

