Nusa Penida Menuju 100% Energi Bersih, Investor Korea Mulai Masuk

0
1137

CEO INAKO Oh Suchang

 

Balinetizen.com, Denpasar

Upaya Bali menuju energi hijau memasuki babak baru. Dalam Kick Off Meeting Studi Kelayakan Elektrifikasi Kendaraan di Nusa Penida, pemerintah bersama investor dan lembaga riset resmi memulai kajian komprehensif menuju terwujudnya Nusa Penida sebagai Green Island pertama di Indonesia.

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa Nusa Penida dinilai sebagai wilayah paling tepat untuk pilot project elektrifikasi. Selain wilayahnya kecil dan mudah dikontrol, pulau ini memiliki potensi kuat untuk penerapan transportasi berbasis energi bersih.

Rencana elektrifikasi mencakup ekosistem menyeluruh, mulai dari penyediaan energi terbarukan, kendaraan listrik yang sesuai medan, infrastruktur charging dan swap battery, hingga model pembiayaan yang melibatkan masyarakat serta pelaku pariwisata.

Pemerintah akan menyediakan regulasi dan insentif, PLN menambah kapasitas melalui microgrid energi terbarukan, sementara BUMD, swasta, dan lembaga riset memberi dukungan teknologi, pembiayaan dan edukasi publik.

Proyek elektrifikasi kendaraan bakal hadir di Nusa Penida, Bali

 

INAKO sebagai project developer memimpin elektrifikasi kendaraan roda dua, armada wisata dan logistik. AISMOLI turut menghadirkan jejaring manufaktur motor listrik dan dukungan teknis nasional.

CEO INAKO, Oh Suchang, mengatakan bahwa proyek ini mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Provinsi Bali.
“Kami mencoba dan mendapat informasi dari menteri Korea Nusa Penida… tidak ada masalah dengan listrik. Saya rasa tidak ada masalah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Gubernur Bali secara khusus mendorong Nusa Penida sebagai titik awal transformasi.
“Gubernur Bali Wayan Koster ingin mengubah Bali dengan green energi… Ia ingin mencoba dengan elektrifikasi ini di Nusa Penida, dia yang menyarankan saya di sana,” kata Suchang.

Soal nilai investasi, INAKO menyebut masih menunggu hasil perhitungan final.
“Kita belum tahu nilai investasinya… besar iya tapi kita juga tidak tahu karena kita belum melakukan FS,”jelasnya.
Namun ia menegaskan bahwa target implementasi berada pada rentang lima tahun.
“Targetnya 5 tahun lagi ya tapi kita kemungkinan di 2030 bisa terealisasi.”

Baca Juga :  Kelurahan Dauh Puri Data Penduduk Non Permanen

Project Leader INAKO yang juga mantan Kadishub Bali, I Gde Wayan Samsi Gunarta, mengungkapkan bahwa elektrifikasi sebenarnya sudah masuk dalam rencana aksi daerah tetapi belum ada investor yang berani memulai.
“Hanya sayang sampai sekarang nggak ada yang nyentuh. Nah baru Korea inilah… INAKO ini yang mau mencoba memastikan bisnisnya bisa berjalan,” katanya.

Namun begitu, ia menekankan adanya sejumlah tantangan teknis yang harus dihitung secara detail.
“Tantangannya banyak di Nusa Penida ini. Pertama supply masih sulit, kemudian listrik juga masih problem. Medannya sempit dan menanjak, sehingga membutuhkan spesifikasi kendaraan yang memadai,” ujarnya.

Studi kelayakan nantinya akan menentukan jenis kendaraan yang paling sesuai dipasarkan di Nusa Penida agar masyarakat, investor dan pemerintah terlindungi dari risiko teknis maupun ekonomi.

Samsi memperkirakan kebutuhan investasi mencapai ratusan miliar.
“Kalau dilihat dari size-nya mungkin sekitar 300–500 miliar… termasuk ekosistem. Tapi itu masih dibagi antara pemerintah berapa, swastanya berapa,” katanya.

Investasi meliputi infrastruktur charging, peningkatan kualitas jalan, pelatihan SDM termasuk membuka kelas otomotif EV di SMK lokal, hingga model bisnis kompetitif untuk operator dan pengguna.

Pada timeline proyek, Samsi menjelaskan bahwa milestone awal dijadwalkan pada Desember.
“Harapan pertama Desember ini bisa melihat model bisnis yang paling memungkinkan,” terangnya.

Hingga Maret, pemetaan manufaktur, ekonomi daerah, hingga regulasi serta intervensi pemerintah pusat melalui Bappenas dan Menko ditargetkan rampung. Studi kelayakan final kemudian akan disampaikan kepada Bupati dan Gubernur Bali.

Menurutnya, Nusa Penida dipilih karena karakteristiknya yang mendukung.
“Nusa Penida itu menarik karena dia kecil, mudah dikontrol, dan listriknya khusus diproduksi di sana. Jika mau diubah menjadi listrik yang lebih berkelanjutan, Nusa Penida memungkinkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Bendesa "Nyaleg" Harus Mundur Masih Pro Kontra

Ia menambahkan bahwa investor telah menyiapkan pendanaan lima tahun ke depan, meski fase awal belum tentu menghasilkan.
“Kalau 5 tahun ya kepanjangan. Mestinya operasional 1–2 tahun menghasilkan. Kalau enggak menghasilkan memang Sinterklas,” ujarnya.

Kick off meeting ini menjadi fondasi penting menuju implementasi transportasi hijau di Bali. Studi kelayakan akan menjadi acuan utama pemerintah dan swasta dalam merealisasikan visi Nusa Penida sebagai Green Island pertama di Indonesia sebelum melangkah ke target Bali 100 persen energi hijau.

Sebelumnya, pada 10 Oktober 2025, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali memimpin rapat bersama PT INAKO terkait rencana kolaborasi mewujudkan Nusa Penida sebagai pulau berbasis energi bersih. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut audiensi antara INAKO dan Gubernur Bali yang mendukung visi Bali Net Zero Emission 2045serta program Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI).

INAKO juga merencanakan proyek percontohan transportasi listrik roda dua di Nusa Lembongan sebelum diterapkan secara lebih luas di Nusa Penida.

 

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here