Menatap Fajar Mentari Bali Tahun 2026

0
273

ilustrasi

Secara falsafi, realitas adalah warna-warni dari sejumlah persepsi, realitasnya sama, “Mentari terbit di ufuk Timur”, maknanya dipersepsikan berbeda oleh orang yang berbeda. Di sini arti penting membangun persepsi, citra yang diupayakan sedekat mungkin dengan realitas. Pemimpin otentik berupaya maksimal untuk itu. Persepsi yang lahir dari pencitraan yang jujur menggambarkan kepemimpinan otentik. Jika terjadi sebaliknya, citra jauh dari realitas dan bahkan bertentangan, merupakan titik-titik hitam dari sejarah kepemimpinan -the dark numbers of leadership’ history-.
Menatap Fajar Mentari Bali Tahun 2026, ditandai oleh sejumlah persepsi, menyebut beberapa, pertama, Denpasar sebagai Ibu Kota Provinsi telah gagal mengelola sampah, karena begitu banyak sampah menumpuk di banyak titik perkotaan, yang membuat warga tidak lagi bangga tinggal di sebuah ibu kota provinsi yang semestinya terkelola apik, dan taman-taman kota menjadi tempat nyaman untuk bercengkerama. Kedua, Bali memasuki darurat lingkungan, krisis lingkungan, akibat sebut saja kombinasi antara: salah kelola manajemen lingkungan bertemu dengan dampak akut dari krisis iklim akibat pemanasan global. Bencana ekologis, banjir bandang, rob dan kebakaran hutan semakin menjadi ke seharian masyarakatnya. Ketiga, terjadi sebut saja “perang” narasi antara penguasa dengan publik yang peduli dengan keselamatan lingkungan. Di satu pihak berpendapat Bali “normal-normal” saja, dan telah mengambil ancang-ancang kebijakan menyongsong 100 tahun ke depan Bali. Di sisi lain, publik yang peduli berpendapat, Bali “benyah latig” dengan kerusakan alam yang nyaris tak terpulihkan, wacana Bali 100 tahun ke depan hanya ilusi dan upaya lari dari tanggung jawab dalam mengelola krisis. Ketiga, brand Bali sebagai DTW Dunia mengalami tekanan, muncul fenomena dan wacana “Bali sepi turis” yang merupakan indikasi awal dari merosotnya brand Bali. Tanpa pembenahan kebijakan yang serius bisa brand ini mengalami penurunan berkelanjutan – sustaining to decrease – menuju ke titik nadir, yang kemudian tidak bisa dipulihkan. Keempat, alih fungsi sawah sudah sampai ke tingkat “titik” mematikan, menurut laporan media media nasional telah mencapai sekitar 2,100 ha per tahun. Jika merujuk prediksi pakar pertanian Prof.Wyn.Windia (alm.), konversi lahan pertanian di atas 2,000 ha per tahun, Subak setelah 10 tahun hanya tinggal kenangan. Timbul pertanyaan menggelitik, tanpa sawah yang tertata apik apakah wisatawan akan tetap mengunjungi: Ubud, Jati Luwih dan Canggu ke Barat?. Kelima, kepemimpinan di akar rumput model kepemimpinan “suryak siu”, substansi kearifan masa lalu sirna, yang semakin menonjol kekuatan otot dan sejenisnya yang “membelakangkan” kecerdasan, empati dan sikap bijak, kebijaksanaan kehidupan.

Baca Juga :  Dua Ditangkap, Tiga Kabur Pelaku Aksi Lempar Mobil Di Jalan Raya Singaraja-Pancasari

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat: kebudayaan Bali dan kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here