Menyimak Ekonomi Vietnam Mampu Bertumbuh 8,02% tahun 2025

0
489

Ilustrasi

Balinetizen.com, Jakarta

Jika disimak kisah sukses -succses story- Vietnam di atas dapat diuraikan jelas. Dalam politik luar negeri terutama berhadapan dengan AS dan China pada prinsipnya mendekati Amerika Serikat mengakomodasi kepentingan China. Dengan targetnya jelas, komoditas ekspor Vietnam tidak terhalang masuk AS, dana perusahaan AS melakukan investasi di Vietnam.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Rabu 7 Januari 2026.

Dikatakan dengan China berlaku semacam prinsip belajar banyak dari China tidak untuk ditundukkan oleh negara yang bersangkutan, tetapi membangun keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga investasi China mengalir ke Vietnam, dan terciptalah relasi perdagangan yang saling menguntungkan.

Menurut Jro Gde Sudibya, upaya super keras dari Vietnam untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitifnya untuk mendorong ekspor Vietnam, dan pada saat bersamaan Vietnam menjadi tempat yang menarik dan kuratif untuk investasi dari banyak negara terutama AS dan China.

Dikatakan upaya yang telah dilakukan Vietnam:

a.Melakukan reformasi struktural di dunia birokrasi, melakukan penciutan besar-besaran jumlah provinsi dan kabupaten untuk memangkas pelayanan birokrasi yang “rad tape”, ribet dan mahal.

b.Melakukan efisiensi berbasis etika, upaya pemberantasan korupsi berlangsung keras, sistemik dan berkelanjutan.

c.Kebijakan struktural yang dilakukan Vietnam ini, dapat mengingatkan rekomendasi dari KTT G7 di Davos Swedia yang menyatakan gerak investasi global akan menuju negara dengan pelayanan birokrasi bersih tanpa korupsi.

Menurut Jro Gde Sudibya, Vietnam telah menikmati hasilnya, dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 8,02 %, pertumbuhan ekonomi tertinggi di negara Asean.

Dikatakan, Vietnam agaknya tergolong cerdik dalam membangun relasi dengan China, tidak silau dengan proyek berlabel Jalur Sutra Modern, iming-iming investasi besar dalam proyek infrastruktur dan kemudian membuat negara ybs.terjerat hutang dari China dan keuntungan proyek sebagian besar diterima China.

Baca Juga :  Sat Pol PP Jembrana Bubarkan Belasan Siswa Saat Nongkrong

“Sejumlah negara di Afrika telah masuk “perangkap” akibat kebijakan ekonomi bernuansa “penundukan”,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurut Jro Gde Sudibya, dari kinerja ekonomi Vietnam yang “moncer”, termasuk kinerja industri pariwisatanya yang konon mampu mendatangkan wisatawan 20 juta tahun 2025, timbul pertanyaan reflektif, kenapa Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam melimpah, pasar yang jauh lebih luas dan pengalaman pembangunan yang lebih panjang hanya mampu bertumbuh tahun 2025 5,1 %, nyaris 3% lebih rendah dari Vietnam?

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here