DPRD Badung Dukung Undagi Lokal, Festival Ogoh-ogoh Ajang Kreativitas Generasi Muda

0
212

Balinetizen.com, Mangupura –

 

 

Pemkab Badung kembali akan menggelar Festival Ogoh-Ogoh yang bertajuk Bhandana Bhuhkala. Dalam pelaksanaannya ada satu aturan yang melarang melibatkan seniman atau undagi dari luar kabupaten. Hal ini pun mendapatkan dukungan dari DPRD Badung, sebab dapat meningkatkan kreatifitas generasi muda maupun undagi lokal.
Ketua Komisi IV DPRD Badung, I Nyoman Graha Wicaksana mengaku, dirinya sangat mengapresiasi kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemkab Badung. Terlebih Dinas Kebudayaan secara konsisten mendorong keterlibatan undagi lokal dalam Festival Ogoh-Ogoh 2026. Utamanya dalam memberikan ruang belajar, berproses, dan berkreasi bagi seniman muda Badung secara berkelanjutan.
“Kami di DPRD Badung sangat mendukung pelaksanaan Festival Ogoh-Ogoh yang mengutamakan seniman, kreator, dan undagi yang berasal dari Kabupaten Badung. Ini bukan sekadar lomba, tetapi bagian dari proses pendidikan budaya dan regenerasi seniman lokal,” ujar Graha Wicaksana, Selasa (20/1).
Pihaknya menyebutkan, para sekaa teruna pun dapat terlibat dan mengasah kemampuan dari pembuatan ogoh-ogoh. Selain itu akan meningkatkan kedisiplinan, kerja sama, serta pemahaman filosofi seni dan budaya Bali.
“Kami berharap, beberapa tahun ke depan akan tumbuh seniman, kreator, dan undagi unggulan di setiap banjar. Festival ini menjadi wadah pembinaan yang sangat strategis untuk mencetak SDM kebudayaan Badung,” ungkap politisi asal Kuta tersebut.
Kebijakan mewajibkan undagi lokal ini pun disambut baik oleh salah satu anggota STT Yuwana Giri, Banjar Tegal Kuta, I Made Adi Dwi Cahaya Putra. Undagi muda yang akrab disapa De Adi ini menyatakan, kebujakan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas dan kemandirian kreativitas STT.

“Sebenarnya di Badung banyak bibit seniman dan undagi. Namun karena sebelumnya belum banyak ruang dan kesempatan, potensi itu belum terlihat. Dengan adanya kebijakan ini, kreativitas di masing-masing STT semakin berkembang,” ungkapnya.
De Adi menjelaskan, penggarapan ogoh-ogoh di STT Yuwana Giri sepenuhnya dilakukan secara mandiri. Mulai dari konsep, pembentukan, hingga finishing dan detail aksesoris.
“Proses ini menjadi sarana belajar langsung bagi yowana, sehingga ke depan mereka tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelaku seni yang berdaya saing,” paparnya. (RED-MB)

Baca Juga :  Sudah Bekerja Sebelum Lulus, Kampus Diploma Terbaik Alfa Prima Wisuda 487 Orang Wisudawan, Made Artana: See You At The Top!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here