Anggota Komisi IV DPRD Buleleng Nyoman Dhukajaya Kunjungi SDN 2 Banyuning

0
118

Balinetizen.com, Buleleng

Miris dan prihatin terpancar dilubuk hati angggota Komisi IV DPRD Buleleng yakni drh. Nyoman Dhukajaya, setelah mendapat laporan dari masyarakat, bahwa di Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Kelurahan Banyuning, Singaraja terdapat siswa selama setahun tidak masuk sekolah.

“Siswa sampai tidak sekolah selama setahun, hal ini harus disikapi serius agar tidak melebar dan menjadikan siswa tersebut menjadi putus sekolah,” ujarnya pada Rabu (25/2/2026)

Keberadaan siswa yang tidak masuk sekolah, memantik Nyoman Dhukajaya mengunjungi SDN 2 Banyuning dan kerumah siswa yang lokasinya dekat sekolah. Mengingat dirinya itu selaku warga Kelurahan Banyuning, yang kini sebagai anggota dewan melakukan pengawasan langsung untuk mengetahui permasalahan apa yang terjadi, sehingga menyebabkan siswa tersebut tidak masuk sekolah.

“Saya prihatin dengan adanya siswa tidak sekolah masih ditemukan di wilayah perkotaan. Hal ini segera diantisipasi agar tidak melebar,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan penyebab siswa sampai tidak masuk sekolah, tidak bisa dinilai dari satu sisi saja. Namun berbagai faktor yang harus dilakukan penelusuran.

“Banyak faktor yang perlu ditelusuri, baik itu faktor internal si siswa itu sendiri, faktor ekonomi orang tuanya, faktor lingkungan dan sekolah yang menyebabkan siswa enggan masuk sekolah. Artinya konteks siswa ini, faktor pemicunya banyak dan sangat kompleks,” ujar Dhukajaya dari Fraksi Partai Golkar ini.

Menurut Dhukajaya, penanganan siswa tidak masuk sekolah, membutuhkan pendekatan yang sensitif.

“Jangan sampai terkesan ada pembiaran terhadap permasalahan ini. Jadi pihak sekolah dalam hal ini gurunya, agar pro aktif melakukan pendekatan persuasif. Sehingga anak bisa kembali bersekolah,” tegasnya.

“Jadi Untuk menyelesaikan siswa tidak masuk sekolah, agar memahami faktor apa pemicunya,” ujar Dhukajaya menambahkan.

Baca Juga :  KPK Dalami Aliran Dana Kasus Pengurusan DID Kabupaten Tabanan

Keberadaan siswa tidak masuk sekolah, diminta pemerintah hadir. Dan bila perlu mendatangkan psikolog anak untuk memberikan pendampingan secara berkesinambungan.

Dalam kunjungannya kesekolah dan kerumah siswa, diperoleh keterangan dari pihak sekolah bahwa siswa tersebut sudah tidak sekolah sejak Oktober 2024. Ia pun menyayangkan situasi itu, sebab hal ini berpotensi putus sekolah.

“Dinas terkait untuk melakukan evaluasi data Dapodik, guna mengetahui rumusan masalah anak sekolah lain yang putus sekolah. Mengingat juga bahwa data ini penting untuk arah pendidikan kedepan. Maka dari itu, harus dilihat rumusan masalah anak putus sekolah ini, seperti apa. Jadi faktor penyebab harus diketahui,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD 2 Banyuning, Desak Putu Sri Sadwiti, mengaku jika siswi yang bersangkutan sudah tidak masuk sekolah sejak Oktober 2024.

Dengan adanya hal ini, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan siswa tersebut ke sekolah. Namun belum membuahkan hasil.

“Jadi, 1 bulan dia ga masuk sekolah kami langsung tindaklanjuti, dengan melakukan kunjungan ke rumah untuk cari penyebabnya bersama wali kelas terdahulu,” ungkap dia

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan unit layanan disabilitas, yang melibatkan psikolog dari dinas terkait, namun masih belum menemukan penyebab pasti anak tersebut tidak mau ke sekolah. Dikatakan layanan psikolog tidak bisa berlanjut lantaran orang tua siswa tersebut sibuk bekerja.

“Tidak hanya melibatkan si anak saja, ini juga harus melibatkan kedua orang tua. Jadi, pihak psikolog juga tidak tau apa yang jadi penyebab pasti. Apakah dari faktor faktor pola asuh, atau yang lainnya,” pungkasnya. GS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here