Perayaan Hari Raya Nyepi Tidak Bertentangan dengan Takbir, Pernyataan Menag Terlalu Menyederhanakan Persoalan

0
442

Menteri Agama Nasaruddin Umar

Balinetizen.com, Jakarta

Intelektual Hindu penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali Jro Gde Sudibya mengatakan, pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menyatakan Perayaan Hari Raya Nyepi Tidak Bertentangan dengan Takbir, Pernyataan yang Terlalu Menyederhanakan Persoalan

Menurut Jro Gde Sudibya keimanan yang berbeda yang kemudian ditafsirkan dengan analogi yang sama, terlalu menyederhanakan persoalan, mulai dari: teologi, filsafat dan tradisi sosiologi agama.

Dikatakan, penyederhanaan persoalan (over simplification) melahirkan potensi kerumitan tersendiri, yang punya potensi kerumitan sosial.

Menurut Jro Gde Sudibya Hari Nyepi, Tahun Baru Caka 1948 sebagaimana menurut sastra dan telah mentradisi dalam kurun waktu yang panjang diikuti oleh umat Hindu dengan khusuk Catur Bratha Penyepian, yang intinya menciptakan suasana ketenangan lahir dan batin bagi Umat Hindu.

“Semestinya suasana ini tidak diusik, sebagai bentuk toleransi terhadap umat Hindu yang ada di Bali. Toleransi memberikan saling pengertian, dalam ungkapan pribahasa: “dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung”,” katanya.

Dikatakan, sekadar kembali mengingatkan sudah semestinya PHDI Bali sebagai garda terdepan dalam memberikan proses penyadaran umat Hindu, mampu bersikap bijak, melindungi kepentingan umatnya.

” Pemda Bali, sesuai amanat konstitusi mewakili negara, mampu bersikap bijak, memberikan penyadaran dalam membangun toleransi dalam negara Pancasila, dalam sebuah masyarakat yang sering tidak terlalu ekspresif dalam menyampaikan keluhan kepentingannya,” katanya.

Dikatakan, ada juga kemungkinan toleransi umat Hindu di Bali selama ini, bisa saja dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung-jawab.

Menurut Jro Gde Sudibya, dalam perspektif sejarah, pidato Ir.Soekarno di depan Sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) 1 Juni 1945 yang kemudian diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila memberikan penyadaran buat bangsa ini dalam tafsir yang disederhanakan.

Baca Juga :  Kasus Penyerobotan Tanah Disabilitas Kian Terang, Hakim Telusuri Peran Aparat Desa

“Dalam melakoni kehidupan keagamaan jangan kita kelebihan “dosis” dan kemudian mengorbankan kebudayaan sebagai identitas nasional. Pemikiran visioner Soekarno, sampai hari ini tetap relevan,” kata Jro Gde Sudibya, anggota Badan Pekerja MPR RI Fraksi PDI Perjuangan 1999 – 2004. intelektual Hindu penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here