Perayaan Hari Raya Nyepi yang Sipeng Ternodai

0
111

 

Dalam sebuah kesempatan Soekarno berkata, jika di sebuah taman hanya ada satu warna bunga, bunga dan taman itu menjadi monitor, membosankan dan tidak indah. Taman yang penuh bunga warna-warni, membuat bunga warna-warni menjadi begitu indah, itulah TAMAN SARI INDONESIA.
Soekarno adalah pemikir visioner yang melampaui zamannya, tidak saja dalam pergulatan ideologi dunia, tetapi pemikiran peradaban dan kebudayaan yang melampaui zamannya. He is really great man, a man beyond the ages. Manusia besar yang melampaui zamannya.
Perayaan Nyepi telah melahirkan keunikan di dunia, jeda waktu kehidupan yang membuat seakan-akan “detak nadi” kehidupan berhenti. Kehidupan yang dalam pandangan Mahatma, “guru” politik Soekarno sarat dengan nafsu keinginan, keserakahan, dalam istilah Gandhiji greedy economy – ekonomi keserakahan-.
Model perekonomian yang telah meluluh-lantakkan sistem di bumi plus penghuninya. Seperti yang dinyatakan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres dalam Sidang PBB tentang perubahan iklim, Juni 2024 di Mesir, karena krisis iklim, Manusia di bumi memasuki jalan tol neraka iklim.
Neraka iklim telah menjadi bagian dari ke seharian manusia di bumi bencana hidrometrologi, longsor, banjir bandang, naiknya permukaan laut dan kebakaran massif hutan.
Perayaan Nyepi selana ini, meminjam ungkapan rokhaniwan besar Svami Vivekananda (guru spiritual Soekarno), proses penyadaran umat manusia untuk merawat kecerdasan intelektual dan spiritualnya yang lintas iman, untuk memberikan kesadaran akan bahaya dari keserakahan manusia
Recognising procesess in to intelectual and spiritual awakning, and the dengereous of gredying of human life.
Perayaan HR.NYEPI yang akan datang ada indikasi keunikannya akan terhapuskan, pesan kepada dunia, peradaban dan kemanusiaan agar manusia tidak menjadi Tuan terhadap Alam, prilaku keserakahan mesti ada jedanya, menjadi sirna. Keragaman yang diganti paksa dengan keseragaman, yang menurut Soekarno bentuk dari kehidupan monoton dan tidak lagi indah. Pemimpin Bali dewasa ini, Gubernur Koster gagal menangkap dalam bahasa Jerman “geist”, semangat zaman dari Sang Putra Fajar Soekarno.

Baca Juga :  Karya Pura Dang Khayangan Prapat Agung TNBB, Pasukan Wenara Sambut Pralingga Siwa Budha

Jro Gde Sudibya, intelektual nasionalis pembelajar pemikiran Soekarno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here