Karya Pura Dang Khayangan Prapat Agung TNBB, Pasukan Wenara Sambut Pralingga Siwa Budha

0
281

Balinetizen.com, Jembrana –

 

Pelaksanaan karya Mamungkah Pedudusan Agung Ngenteg Lingih Menawa Ratna, Tawur Labuh Gentuh di Pura Dang Khayangan Prapat Agung, Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Sabtu (11/10) mengagendakan dua upacara penting. Yakni Mendak Pralingga Ida Betara dan Mepepada Sarana Wewalungan yang akan dilarung ke Segara Rupek (Selat Bali).

Proses pekoleman pralingga dilaksanakan di Pura Dang Kahyangan Mertasari, Desa Adat Lokasari, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Sebelumnya, Pralingga Siwa Budha, Melanting dan Pasupati dipendak dari Pemerajan Manuaba Tampak Siring, Gianyar.

Setelah semalaman menginap di Pura Mertasari, Pralingga kemudian dibawa menuju Pura Dang Khayangan Prapat Agung, TNBB. Iring-iringan Pralingga disambut Sekaa Wayang Wong, Griya Penida Batuagung dengan membawakan Watek Wenara (kera) dipimpin Raja Hanoman, penari widyadara-widyadari dengan iringan tabuh Sekaa beleganjur. Upacara pemagpag dilaksanakan di pertigaan jalan di depan Pelinggih Penghayat Segara di Pura Dang Khayangan Prapat Agung,

Suasana penyambutan, semakin ramai dengan suara puja genta para Sulingih dan pemangku diikuti ratusan pemedek pengayah mengantarkan sampai ke utama mandala. Prosesi magpag seluruh pemedek berjalan kaki, mulai tempat pralingga tedun sampai di utama mandala.

Sebelum memasuki utama mandala, juga diadakan prosesi pecaruan dan tetabuhan, hingga pemelaspas pralingga. Rangkaian upacara dilaksanakan di Candi Bentar Madya Mandala Pura.

Prosesi tersebut mempunyai makna agar semua piranti dan sarana digunakan mendapat anugerah, bersih sehingga bebas dari segala unsur kotor yang dapat menganggu rangkaian karya. Setelah prosesi penyucian, pralingga dimasukan melalui Kori Agung dan selanjutnya distanakan di Pelingih Pepelik.

Tidak berhenti sampai disana, sebelum dinaikan di pepelik, pralingga diarak keliling murwa daksina, sebanyak tiga kali dengan berkeliling mengikuti searah putaran jarum jam. Selama prosesi merayas hingga pralingga dinaikan ke pepelik. Upacara dipuput Pedanda Siwa dari Griya Sukataman. Termasuk para pemangku, walaka prawartaka karya yang mendampingi prosesi tersebut.

Baca Juga :  Bupati Giri Prasta Serahkan Bantuan Hibah Daerah Kepada Masyarakat

Prosesi murwa daksina semakin lengkap dengan suguhan penari rejang dewa dan pependetan teratai putih yang tampil diplataran utama mandala.

Upacara mulang pakelem ditempatkan di Segara Selat Bali, Gilimanuk.Sebelum prosesi mulang pakelem dijalankan hewan digunakan seperti kerbau suci, kebo dius merana dan anggrek bulan, terlebih dulu disucikan. Prosesi mepepada dipusatkan di madya mandala pura. Seluruh wewalungan hewan, mulai kerbau, sapi, anjing warna bang bungkem, kidang, menjangan, petu (kera) luwak, hingga walungan suku dua, angsa, bebek dan ayam disucikan, semua hewan dan binatang walungan mepepada dipasangi kain sesuai warna urip hingga percikan tirta dan doa sebelum dijadikan persembahan. Upacara mepepada hingga mulang pakelem disangra semeton Kabupaten Buleleng dan Jembrana.

Pengelingsir Pengempon Ida Bagus Susrama didampingi Prawartaka karya Ida Bagus Santa manut eed karya menyampaikan bahwa hari ini diagendakan dua upacara yakni mendak pralingga serta, mepepada walungan yang akan dihaturkan kesegara dalam rangkaian tawur labuh gentuh. “Kedua rangkaian karya selama dua hari, kesangra semeton Kabupaten Buleleng dan Jembrana, tuturnya.

“Setelah ini berjalan dilanjutkan upacara mulang pakelem, mapasar dan mendak siwi di pura melanting,” imbuhnya. (Komang Tole)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here