Refleksi Raina Buda Manis Dukut, Bali Memerlukan Pemimpin Bijak, BUKAN yang Kecerdasannya Rendah dengan Pamrih Pribadi Tinggi

0
110

 

Penulis : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

Hari ini, Rabu, 25 Maret 2026, raina Buda Manis Dukut, sasih Kedasa Icaka 1948. Dalam kosmologi waktu, Buda berada di Posisi Barat, Tuhan Mahadewa, Manis berada di Posisi Timur, Tuhan Iswara, “penemu” nya di Tengah, turunnya Tuhan Wisnu.
Dalam perspektif waktu di atas, Bali memerlukan pemimpin bijak, sang Sajnana, punya kearifan besar – great wisdoms – dalam kepemimpinan, bukan yang kecerdasannya “cetek”, dangkal, tetapi punya pamrih pribadi tinggi.

Bali memerlukan pemimpin cerdas yang mumpuni, kecerdasan fisik -Phisical Quotience-, berupa disiplin diri yang kokoh. Kecerdasan intelektual – Intelectual Quotience -, kemampuan kognitif yang andal dalam membangun relasi sebab akibat melahirkan keputusan cerdas sesuai tuntutan keadaan, “Manut Desa, Kala, Patra. Kecerdasan Emosional – Emotional Quotience -, mampu berempati dalam menjalankan Dharma kepemimpinan. Kecerdasan Spiritual – Spiritual Quotience -, integritas tinggi, besarnya spirit untuk mengabdi demi kepentingan publik, melayani manusia dan kemanusiaan.

Pemimpin bijak, yang mampu mempersatukan masyarakat dengan semangat solidaritas sosial – paras paros – bukan memecah belah masyarakat dengan dikotomi: Drestha Bali VS Sampradaya Asing, atau memanipulaai sikap toleransi masyarakat untuk tujuan “politicking”.

Pemimpin bijak, dengan kualifikasi keputusan yang membumi, sebut saja dalam sejumlah isu kritis, pertama, menyelesaikan krisis sampah yang begitu memalukan, dengan teknokrasi kebijakan yang terukur: penyediaan dana anggaran, pilihan teknologi, model pengelolaan baku dengan partisipasi luas masyarakat. Bukan lepas tanggung jawab, “ngeles” di sana sini, dan kemudian diduga mengorbankan anak buah. Kedua, Bali “benyah latig”karena kerusakan lingkungan, kerusakan yang nyaris tak terpulihkan, kerusakan lingkungan yang sangat berbahaya, karena “menabrak” danau, pinggang bukit, lereng-lereng Gunung, yang sangat destruktif terhadap kesakralan dan kesucian Bali. Dalam ungkapan tetua Bali “gumine panes lan memanes”. Ketiga, krisis yang sedang menimpa Bali harus diakui, dicarikan jalan keluar bersama, dalam keputusan pemimpin dengan “sense of crisis” dan “sense of urgency” tinggi, bukan lari dari kenyataan dengan “menambal” melalui pencitraan (palsu) dengan anggaran daerah ratusan milyar rupiah, atau terjebak dan menjebak masyarakat dengan ilusi palsu Bali 100 tahun yang akan datang.

Baca Juga :  Turunkan Angka Stunting, Bupati Jembrana Jadikan Kepala OPD Orang Tua Asuh Stunting

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here