Balinetizen.com, Denpasar
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, tidak hanya melepas lebih dari 1.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri, tetapi juga menyambangi salah satu unit usaha milik purna PMI di Kota Denpasar, yakni Namaste 21, di Jalan Padanggalak, Denpasar Timur, Kamis (2/4/2026).
Kunjungan ini menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap pemberdayaan pekerja migran, khususnya setelah mereka kembali ke tanah air.
Pemilik Namaste 21, Novita Wesley Simanjuntak (55), merupakan mantan PMI yang pernah bekerja sebagai perawat di Kuwait selama 9 tahun sejak tahun 2002.
Berbekal pengalaman kerja, jejaring, serta dukungan dari pemerintah, ia kini berhasil membangun usaha mandiri yang mempekerjakan enam orang karyawan.
“Dulu bekerja untuk orang lain, sekarang sudah bisa membuka usaha sendiri dan mempekerjakan orang,” ujar Mukhtarudin saat kunjungan.
Menurutnya, kisah seperti ini menjadi contoh keberhasilan program pembinaan PMI yang dilakukan secara berkelanjutan.
Mukhtarudin menegaskan, pemerintah hadir sejak awal proses pekerja migran, mulai dari sebelum keberangkatan, saat bekerja di luar negeri, hingga setelah kembali (purna PMI).
Program yang diberikan mencakup:
Pelatihan kewirausahaan
Literasi keuangan digital
Fasilitas akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui Kementerian UMKM
Dukungan ekspor melalui kerja sama dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
“Konsep pembinaan ini agar pekerja migran tidak hanya bekerja, tetapi saat pulang bisa mandiri secara ekonomi,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa PMI yang berangkat secara prosedural umumnya tidak mengalami masalah, berbeda dengan pekerja ilegal yang rentan terhadap penipuan dan eksploitasi.
Novita mengungkapkan, usaha Namaste 21 bermula saat pandemi tahun 2020, ketika masker sulit didapat dan harganya mahal.
“Dari kebutuhan pasar itulah saya mulai produksi masker. Sekarang sudah berkembang menjadi lebih dari 60 produk,” ungkapnya.
Sebelumnya, ia sempat menjalankan usaha kuliner selama lima tahun, namun menghadapi berbagai kendala, termasuk minimnya dukungan sistem.
Melalui pelatihan yang difasilitasi pemerintah, ia kini memahami:
Manajemen keuangan
Strategi pemasaran
Pengelolaan produksi
Pemilihan pasar dan supplier
“Semua ilmu itu kami dapatkan gratis dari pemerintah, dan itu sangat membantu,” tambahnya.
Novita berharap para pekerja migran yang kembali ke Indonesia tidak menjadi pengangguran, tetapi mampu membuka usaha sendiri.
“Setelah pulang harus punya ilmu, pengalaman, jaringan, dan modal. Jadi bisa mandiri bahkan membantu orang lain,” ujarnya.
Sementara itu, data menunjukkan jumlah purna PMI di Bali dalam tiga tahun terakhir mencapai lebih dari 5.000 orang, yang menjadi potensi besar dalam pengembangan UMKM berbasis migran.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

