Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.
Pemimpin Bali Tercerahkan, memperoleh “penugrahan sakeng Ida Bhatara-Bhatari sami ring sawewengkon jagat Bali” semestinya punya empati terhadap kondisi Bali kini dan masa depannya. Empati yang mengalir menjadi kepekaan tinggi terhadap persoalan krisis yang menjadi krisis yang menimpa Bali, kemudian diterjemahkan dalam program aksi terukur yang menggambarkan “sense of urgency” dari krisis yang menghadang.
Empati dan kemudian program aksi untuk krisis yang menghadang, krisis sampah, rusaknya lingkungan alam, amburadulnya pengaturan tata ruang, keterpinggiran masyarakat lokal secara ekonomi dan proses aleniasi (keterasingan) masyarakat dalam “rumah” budaya nya sendiri.
Pemimpin yang berkarakter kuat, punya “taksu”, memberikan keteladanan buat masyarakat dalam mengembangkan sikap “jengah” daya juang, kemampuan saing dalam merespons perubahan.
Bukan pemimpin tipe pengecut dengan sejumlah cirinya, pertama, sebatas “membebek” kepentingan kekuasaan dari “rimba raya” perpolitikan Jakarta. Dalam retorika Soekarno, pemimpin yang berdaulat secara politik. Kedua, tidak lempar tanggung jawab, “ngeles” dari persoalan, “mengapungkan” sebagai persoalan publik, menimpakan kesalahan pada bawahan. Ketiga, begitu berambisi dengan proyek mercu suar dengan perencanaan amburadul, dan diduga ada motif “kick back” di dalamnya. Ketiga. berhenti “mendewakan”elektabilitas dengan menghalalkan semua cara, karena pada akhirnya peradaban Bali menjadi korbannya, akibat masyarakat mengalami pengepingan, polarisasi yang tidak perlu dan alam Bali semakin hancur.

