Balinetizen.com, Denpasar –
Kamis, 16 April 2026 raina Tilem Kedasa, raina yang bermakna spesifik-khusus terutama bagi krama Bali Pegunungan yang masih ketat merawat tradisi. Raina terakhir melakukan bhakti, karena mulai besok penanggal a pisan sasih Jiestha dan kemudian sasih Sadha, dikenal ungkapan “bintang ngerem”, para dewa-dewi “meyasa” di sorga langit ke tujuh, tidak ada upakara bhakti, fokus bekerja mengelola sawah dan ladang menyongsong sasih Kasa, bulan satu, dua bulan mendatang. Tradisi Agama spiritual yang masih diyakini di wilayah dengan tradisi Bali Mula, dengan jumlah numerik di permukaan semakin sedikit.
Menyebut beberapa kearifan kehidupan dari tradisi spiritualitas Bali Mula tsb., pertama, setiap orang terlebih-lebih para pemimpin semestinya masih sanggup mencium keharuman aroma Tanah Bali, sebut saja di sasih yang khusus. Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kelima, Kepitu dan sasih Kedasa. Keharuman aroma bisa melalui indra penciuman, kepekaan rasa, serapan melalui pori-pori kulit. Kedua, turunan dari kepekaan rasa butir satu, melahirkan “tetuek lan kelimbangkan kayun” yang bercirikan: kejujuran diri, empati pada alam, melatih diri “paras-paros” ke sesama. Ketiga, wacana “nindihin gumi” Bali, adalah spirit yang mekar dalam diri menjadi tindakan nyata, siap berkorban, tidak sekadar wacana “omon-omon” tanpa kekuatan taksu.
Kontras dengan kualifikasi insan manusia Bali di atas, mereka yang tidak peduli tentang taksu dan kesucian Bali, menjadi budak dari keinginannya, “nyapa kadi aku”, sekadar (maaf) togog tanpa rasa, sekadar bernafas untuk memenuhi ahamkaranya. “Out put” nya setara sosial: Pemimpin yang “nitya wacana”, memuja pencitraan palsu, alam rusak parah karena keserakahan, prilaku kekuasaan yang “Ampah” dan kemudian “Campah”, menjadi tumpahan kemarahan dan kekecewaan lengkap dengan olok-olok yang menyakitkan, bagi mereka punya rasa malu dan kepekaan rasa.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

